(7/10)⭐
Film animasi yang mengisahkan Count si Dracula sang pemilik Hotel Transylvania di mana para monster menginap di HT tersebut. Du Hotel Transylvania 2 cerita mengisahkan peristiwa tujuh tahun sesudah film HT dirilis, yaitu saat anaknya Count, Mavis menikah dengan seorang manusia bernama Jonathan. Jo yang telah menikah dengan Mavis akhirnya ngebantu sang mertua menjalankan bisnis penginapan ini dan memperbolehkan manusia untuk bermalam di Hotel Transylvania.
Kebahagiaan keluarga kombinasi itu semakin bertambah karena Mavis dan Jo dikaruniai seorang bayi, Dennis.
Tapi, keberadaan Dennis malah jadi sebuah kekhawatiran buat Count. Secara, sang cucu belum menunjukkan kemampuannya sebagai seorang vampir.
Di sisi lain, Mavis mikir kalau putra berambut ombak itu adalah seorang manusia dan ingin mengajaknya pindah ke tempat pemukiman manusia.
Di situasi galau dan dinamika keluarga kolaborasi itu, Count yang tak ingin cucunya pindah dari Transylvania, ia nyusun rencana sama temen-temen monsternya (yang sama sekali nggak ngebantu) -- kayak Frankenstein, Werewolf, The Invinsible Man, Murray si Mummy -- untuk melatih Dennis jadi seorang vampir sejati.
Dennis nggak bisa terbang, punya kekuatan super ataupun tak bisa berubah jadi kelelawar.Kita lalu melihat Dracula mengajari Dennis menjadi vampir. Ia diajak menakuti orang hingga ke kamp pelatihan vampir-vampir bocah.
Di sini konflik utamanya filmnya lalu berkembang. Cucu Dracula yang juga anak Mavis, Dennis kelihatan lamban perkembangannya sebagai sesosok vampir.
Sayangnya usaha si Dracula ini kurang berjalan dengan sempurna. Dennis dilatih terbang, nakut-nakutin orang, dan makan daging rusa. Tapi semua gagal.
Setelah itu sabagai kakek Dracula, Vlad, datang dan mengetahui HT juga dihuni manusia. Termasuk cicitnya, Dennis.
Keluarga HT 2 ini menawarkan humor dan kelucuan saat dunia yang berbeda bertemu, dunia dedemit dan manusia. Bila di film pertama fokusnya pada ayah yang over-protektif di film kedua si ayah (Dracula) yang telah jadi kakekingin cucunya sehebat dirinya.
Berhasilkah upaya sikakek Drakula mengubah cucunya jadi vampir?
Tapi bukan pertanyaan apa Dennis akhirnya jadi vampir atau tidak yang membuat Hotel Transylvania 2 ini tontonan nyenangin.
Sejatinya, baik Hotel Transylvania pertama dan kedua ini berkisah tentang kita, para manusia.
Kisah seorang ayah yang over-protektif pada putrinya yang mulai mengenal lawan jenis manusiawi banget dan universal. Hal tersebut nggak cuma terjadi di dunia vampir, tapi juga dunia manusia di kebudayaan mana aja. Begitu juga kisah tentang kakek yang sayang cucu dan ingin cucunya jadi hebat seperti dia.
Pun di Hotel Transylvania 2 ini kita ketemu Mavis, sang ibu, yang tak mempermasalahkan putranya bakal jadi vampir atau manusia. Sikap Mavis ini cerminan sifat ibu yang baik yang bisa Anda temukan di belahan dunia mana pun. Seorang ibu akan menganggap putranya sosok terbaik. Ibu tak pernah menganggapanaknya cacat atau punya kekurangan hanya karena tak jadi vampir. Di sini kemudian Hotel Transylvania 2 tak hanya fun ditonton, tapi juga terasa dekat dengan kita. Asli Disney selalu bikin gue 'nyes'.
Loving books, white and navy blue. Love Doraemon �� very much. Born at 27 of March 95". Dislike something too sweet, debeat, and haters.
Kamis, 24 September 2015
Review Hotel Transylvania 2 : 'Konsep Realita'
Sabtu, 12 September 2015
Review No Escape: Kurang Faktor Gregetnya!
Rate (5/10) ⭐
"Dad, are people trying to kill us?"
Lagi-lagi Amerika bikin film nekat. Ya film ini kembali menunjukan bahwa Amerika dengan segala kemajuannya, memampangkan diri sebagai negara peradaban tingakat satu.
Sesuatu yang terasa kontroversial itu merupakan isi dari No Escape, sebuah action thriller Family dimana “American awesome, Asian awful.” Menariknya ini cukup lucu.
Seorang engineering dari USA bernama Jack membawa serta istrinya Annie dan dua putri mereka Lucy dan Beeze (kala au nggak salah) menuju sebuah negara di kawasan Asia Tenggara (tidak disebutkan) di mana ia akan mencoba membangun karir barunya.
Segala sesuatu udah nggak bersahabat sejak mereka tiba di bandara. Meski pada akhirnya sampai di hotel berkat bantuan pria berewokam bernama Hammond, masalah tidak menjauh dari Jack.
Televisi, lampu, dan telepon dikamar hotel mereka nggak berfungsi dengan baik, bahkan untuk nyari koran USA Today aja sulit. Celakanya ketika hendak memenuhi hal terakhir tadi Jack bencana datang menghampiri Jack, hal yang memaksa ia dan keluarganya untuk mencari jalan keluar dari negara yang udah seperti zona perang itu.
Di bagian awal lo bisa nilai kalau apa yang ingin Sutradara sampaikan sebenarnya baik, dari sinopsis aja sudah hadir kesan bahwa cerita ingin 'memberikan' lo bagaimana berharganya keluarga, tapi sayangnya yang terjadi setelah itu adalah sebuah petualangan flat dan lesu yang membuat judul film ini jadi terasa kurang.
Si kuat dan si lemah, dan uniknya, dengan berlandaskan isu rasial yang terasa banget meski udah berusaha nyembunyiin, seperti nggak nyebutin nama negara yang Jack kunjungi misalnya.
Gue pribadi agak terganggu sama isu rasis tadi, dan sayangnya saya ditambah rasa kantuk karena bingung dan monoton. Sumber bingungnya berasal dari kurangberhasilnya menemukan komninasi tepat antara thriller, action, drama, horror, bahkan komedi. Komedinya sangat dikit,deg-degammya kurang greget.
Hasilnya semua itu saling numpuk, walaupun thrill yang ia punya terhitung oke tapi gue nggak dapet titik tertinggi yang bisa ngebuat gue menahan napas dan deg-degan. Hal yang wajar jika judulnya adalah Escape, bukan No Escape.
Dari sana pula rasa monoton muncul, dan itu berasal dari cerita yang bergerak cepat. Gue yakin No Escape sebenarnya punya peluang besar untuk menghibur penonton dengan memberikan mereka kegelisahan pada cerita dan karakter, tapi disini No Escape terlalu santai, mereka buat semuanya tampak sederhana dan minim banget.
Sistem No Escape ini tidak salah tapi terasa lemah. Tekanan untuk lolos pada karakter utama nggak kuat, rintangan yang ia hadapin juga nggak kuat, tekanan dari antagonis kurang banget, kepanikan dan aksi ekstrim yang seharusnya tampak menyeramkan justru terasa datar. Mungkin pemainnya kurang minum-minuman yang 'roso-roso' itu. Sisi mental dramanya kopong.
Tapi point yang masih bisa gue ambil di sini adalah sisi perjuangan orangtua terhadap anak. Mereka rela mati, terluka, terjatuh, tertimpa demi keluarganya tetap utuh.
Selasa, 25 Agustus 2015
Review Inside Out: Paket Lengkap
(8,8/10) ⭐
Kenapa gue bilang ini film Pixar yang 'paket lengkap?'
Check this one out.
Main storynya ada pada emosi makhluk hidup yang dibagi menjadi 5 entitas yaitu Joy (senang), Disgust (jijik), Anger (kemarahan), Fear (takut), dan Sadness (sedih). Selanjutnya, cerita berfokus pada seorang anak perempuan yang bernama Riley.
Riley hidup bahagia bersama keluarganya di Minnesota dan para emosi itu mengisi pikiran Riley dengan banyak kenangan bahagia. Tapi itu berubah saat Riley harus pindah ke San Fransisco mengikuti sang ayah.
Ternyata di tempat baru ini Riley mengalami kesulitan beradaptasi dan mengakibatkan kehidupannya menjadi suram. Well, gue rasa mayoritas kita pernah ngalamin hal ini.
Dan masalah itu diperparah dengan adanya konflik antar emosi, di mana nantinya Riley harus hidup dengan 3 emosi saja karena Joy dan Sadness menghilang. Rasa senang dan sedih hilang. Bayangin rasanya!
Penyampaian story-nya sangat baagus (simple dan plotnya jelas), banyak banget feel yang bisa dirasakan saat menonton film ini, akan lebih baik lagi jika dibandingkan dengan pengalaman pribadi. Jadi, penonton diajak untuk berkaca atau mencerminkan dirinya sendiri.
The Mind Mechanism
Cara kerja pikiran makhluk hidup dalam film ini digambarkan dalam sebuah markas (Headquarter) diamna ke 5 emosi saling bergantian mengatur emosi Riley dengan menggunakan panel yang ada.
(The Headquarter )
Tiap hari, Riley memproduksi memori yang digambarkan dalam bentuk bola berwarna (yang keliatanya mirip sama bola di Zuma Deluxe). Sesuai emosi yang dia rasakan (kuning = Joy, biru = sadness, merah = anger, ungu = fair, dan hijau = Disgust), dan saat Riley tidur memori-memori tersebut dibawa ke Long Term memory untuk diproses lebih lanjut (memilah mana yang disimpan dan mana yang dibuang) saat Riley tidur.
Dari semua memori yang ada, ada memori penting yang disebut 'Core memory', memori ini penting karena bisa membuat pulau 'kepribadian' dan menjadi sumber tenaga untuk pulau tersebut.
Unik banget! Ruang produksi mimpi, ruang khayalan dan imajinasi, dan ruang-ruang lain yang mendukung dalam pembentukan karakter Riley.
Nah udah mulai ngerasa film ini wajib dinikmatin, kan? Bareng temen, saudara, orangtua, pacar, temennya pacar, orangtuanya pacar, dsb. Intinya film ini film terbaik dari Pixar yag pernah gue tonton.
Oke, Stop ya!. Gue spoiler banget. Gue cuma bisa saranin lo nonton ini segera, dan jangan harepin blueray-nya!
Senin, 10 Agustus 2015
Review ‘Mission: Impossible - Rogue Nation’
Belum bosen liat aksi Papah Tom Cruise, kan ?
Papah Tom balik lagi dengan perannya sebagai Ethan Hunt, agen andalan IMF (Impossible Mission Force). Mudah-mudahan gue nggak keceplosan ngasih spoiler di review ini~
Shoot awal yang udah bikin tegang bikin penontong langsung deg-degan.
Scene diambil pada saat IMF harus menghentiin sebuah pesawat yang membawa hulu ledak. Walaupun hasilnya nggak sepenuhnya gagal, IMF dibubarkan karena seseorang misterius berkacamata menggagalkannya.
Brandt dan Benji sekarang harus bekerja CIA karena IMF ditutup, sementara Ethan Hunt harus bersembunyi dari kejaran CIA. Tapi dalam persembunyiannya, Hunt terus nyari seorang pria misterius berkacamata yang dia yakin punya kekuasaan di Syndicate.
Syndicate ini adalah organisasi dengan anggota yang nggak kalah jagonya dengan Hunt. Ditambah lagi, mereka adalah orang-orang yang udah dinyatakan hilang atau tewas. Syndicate ini pengin banget ngacurin IMF, dan setelah IMF dibubarin mereka emang jadi lebih getol bikin onar. Yang tadinya cuma organisasi kriminal ‘biasa’ sekarang mulai merambah ke politik setelah mereka berusaha membunuh tokoh pemerintahan.
Dalam petualangannya, Hunt bertemu seorang cewek bernama Ilsa (kalo gak salah) yang punya hubungan putus-nyambung dengan Syndicate. Kelihatan jelas kalau sebenarnya dia bukan benar-benar anggota Syndicate. Nah si Ilsa ini agak bikin penonton bingung diawal-awal karena kadang serong kanan- kadang serong kiri.
Walaupun kayak orang buangan, Hunt dan kawan-kawan tetap memburu si pria misterius berkacamata sampai akhirnya semakin dekat dengan kebenaran soal Syndicate.
Tom Cruise termasuk di jajaran para produser untuk film ini. Kita bisa dikasih view menarik ala Inggris, Austria, dan Maroko lewat lokasi-lokasi yang dipakai di film ini.
Overall, ada beberapa bagian yang terasa agak ngebosenin. Temponya yang lumayan cepat bikin kita nggak punya pilihan selain ngikutin alur sambil deg-degan.
Selebihnya, aksi Papah Tom lumayan bikin tegang meski usianya tak lagi muda. Dan humor dari karakter Benji, serta interaksi Hunt dengan kawan-kawannya cukup menghibur. Dan Mungkin untuk film-film Mission: Impossible aksi-aksi gila ini yang lebih diutamain. Yang paling keren mungkin aksi kejar-kejaran moge (motor gede) kecepatan tinggi di perkotaan bikin hati sakit. Nyicilnya lama, ngamcurinnya sebentar.
“You’re nothing without me,”
Penasaran? Saksiin sendiri deh aksi Papah Tom tanpa stuntman!
Selasa, 28 Juli 2015
Review Terminator Genisys
Terminator Genisys bercerita tentang perpecahan timeline.
Lo pasti udah tahu plot klasik Terminator: John Connor adalah harapan terbesar umat manusia untuk memperoleh kemerdekaan. Ia berhasil memimpin umat manusia meraih kemenangan, tapi Skynet lebih dulu mengirim satu robot Terminator ke masa lalu untuk membunuh ibu John, Sarah Connor.
Dikirimlah Kyle Reese, orang kepercayaan John, untuk melindungi Sarah dan mengatasi ancaman tersebut.
Hmm, film ini bisa dibilang ngacauin lore
Terminator. Tapi, nggak kayak Terminator: Rise of the Machines yang seakan-akan membuat keseluruhan Terminator 1 dan 2 sia-sia.
Terminator Genisys memberikan penonton lebih banyak tribut yang lebih menyenangkan dan epik banget.
Di sini lo bakal ngelihat wujud Arnold muda dan tua! Cek filmnya untuk lihat sendiri konfrontasi antara dua versi berbeda ini. Dukungan make up dan mimik muka Arnold emang berkelas!
Lo juga bakal ngeliat T-1000 , terminator cair dari Terminator 2. Terminator Genisys tetap ngfak bisa dibandingkan dengan Terminator 1 maupun 2. Ini beda!
Kayaknya sutradara film ini udah berupaya keras ciptain film yang seru, dengan adegan aksi nyaris non stop, ketegangannya terjaga, plus humor biar penonton nggak boring. Gue pribadi, suka cara sang sutrada letakin timing humor yang pas dan nggak maksa.
At the end, Alan Taylor (si sutradara) emang nggak bisa ngulang sentuhan emas dan legendaris di film pertama dan kedua.
Tapi, Terminator Genisys tetap nyajiin hiburan yang solid. Selain aksi dan humor, film ini juga dapat menyajikan T-3000 sebagai musuh yang berbahaya banget. Lebih baik daripada T-X yang disajikan di Terminator 3. T-3000 sering muncul tiba-tiba, kayak bayangan mantan gitu~.
Terminator Genisys adalah film yang layak tonton untuk fans kasual, bahkan yang tidak tahu Terminator sekalipun.
Ada narasi panjang di awal yang akan membantu lo buat mahamin sejarah Terminator.
Kelemahannya, mungkin akting Emilia Clarke dan Jai Courtney, sebagai Sarah Connor dan Kyle Reese, yang terkadang terasa agak datar. Meski gue akuin tatapan Emilia Clarke itu bikin gue mimisan.
Tapi hal itu udah di-backup rapi dengan akcting Arnold sama si T-3000 ya g total banget.
Cek aja filmnya. Kalau lo fans film aksi, seharusnya sih lo terhibur. Karena gue lun begitu.