Selasa, 28 Juli 2015

Review Terminator Genisys

Terminator Genisys bercerita tentang perpecahan timeline.

Lo pasti udah tahu plot klasik Terminator: John Connor adalah harapan terbesar umat manusia untuk memperoleh kemerdekaan. Ia berhasil memimpin umat manusia meraih kemenangan, tapi Skynet lebih dulu mengirim satu robot Terminator ke masa lalu untuk membunuh ibu John, Sarah Connor.

Dikirimlah Kyle Reese, orang kepercayaan John, untuk melindungi Sarah dan mengatasi ancaman tersebut.

Hmm, film ini bisa dibilang ngacauin lore
Terminator. Tapi, nggak kayak Terminator: Rise of the Machines yang seakan-akan membuat keseluruhan Terminator 1 dan 2 sia-sia.

Terminator Genisys memberikan penonton lebih banyak tribut yang lebih menyenangkan dan epik banget.

Di sini lo bakal ngelihat wujud Arnold muda dan tua! Cek filmnya untuk lihat sendiri konfrontasi antara dua versi berbeda ini. Dukungan make up dan mimik muka Arnold emang berkelas!

Lo juga bakal ngeliat T-1000 , terminator cair dari Terminator 2. Terminator Genisys tetap ngfak bisa dibandingkan dengan Terminator 1 maupun 2. Ini beda!

Kayaknya sutradara film ini udah berupaya keras ciptain film yang seru, dengan adegan aksi nyaris non stop, ketegangannya terjaga, plus humor biar penonton nggak  boring. Gue pribadi, suka cara sang sutrada letakin timing humor yang pas dan nggak maksa.

At the end, Alan Taylor (si sutradara) emang nggak bisa ngulang sentuhan emas dan legendaris di film pertama dan kedua.

Tapi, Terminator Genisys tetap nyajiin hiburan yang solid. Selain aksi dan humor, film ini juga dapat menyajikan T-3000 sebagai musuh yang berbahaya banget. Lebih baik daripada T-X yang disajikan di Terminator 3. T-3000 sering muncul tiba-tiba, kayak bayangan mantan gitu~.

Terminator Genisys adalah film yang layak tonton untuk fans kasual, bahkan yang tidak tahu Terminator sekalipun.

Ada narasi panjang di awal yang akan membantu lo buat mahamin sejarah Terminator.

Kelemahannya, mungkin akting Emilia Clarke dan Jai Courtney, sebagai Sarah Connor dan Kyle Reese, yang terkadang terasa agak datar. Meski gue akuin tatapan Emilia Clarke itu bikin gue mimisan.

Tapi hal itu udah di-backup rapi dengan akcting Arnold sama si T-3000 ya g total banget.

Cek aja filmnya. Kalau lo fans film aksi, seharusnya sih lo terhibur. Karena gue lun begitu.


Selasa, 21 Juli 2015

Abstrak

Assalamu'alaikum,
Hanya ingin share, Semoga bisa membantu

Garuda Indonesia: Kirim email proposal sosialmedia@garuda-indonesia.com

Teh Pucuk Harum: Kirim proposal ke Mayora Jl. Daan Mogot KM. 18 Kalideres, Jakarta Barat

BRI: Kirim proposal event ke Gedung Kantor BRI 1 Divisi Kesekretariatan Lt. 20 Jl. Jend. Sudirman Kav. 44-46 Jakarta 10210. Konfirmasi pengiriman proposal dapat menghubungi hotline 021-5751966

Bloop Endorse atau Urbie Store: Kirim proposal ke marketingbeu@yahoo.com

Hydro Coco: Kirim proposal ke promosi@myhydrococo.com dan ke message di FB Hydro Coco dalam bentuk PDF.

Silver Queen: Kirim email proposal ke info@silverqueensantai.com

Nutrijell: Kirim proposal kerjasama ke marketing@forisa.co.id

Brands Essence ID: Kirim proposal ke brandscs@cerebos.co.id

Zalora Indonesia: partner.program@zalora.co.id

Marina Natural: Kirim proposal ke gati@tempogroup.com atau dian@tempogroup.com atau vidya@tempogroup.com. Telpon 021-29218888 Ext. 5220/5221 UP Gati/Septian Marina

Tango: Kirim proposal ke andrien@ot.co.id file max. 2 MB

Post-it Indonesia: Kirim proposal fisik ke PT 3M Indonesia, Perkantoran Hijau Arkadia, Tower F, 8th Floor Jl. TB Simatupang Kav. 88 Jakarta Selatan 12520

HiLo Teen: Kirim proposal ke customer@hilo.co.id
Semoga berguna dan bermanfaat

infoSPONSORSHIP

Unilever (Pak Heru Prabowo) 08129527058
Bank BNI (Pak Gatot) 081196687
Acer (Pak Donald) 08567565437
Air Asia (Bu Yanti) 021-30405390
Indosat (Bu Venty) 08151688000
Mayora (Bu Diah) 021-5655319
Aqua 021-94053735
XL (Bu Roseyanti) 0818719355
Smart (Pak Titon Wahyu) 0881211488
Bolpoin Standart (Pak Woro) 021-2313247
BCA Prioritas (Pak Yudi Darmadi) 08121070402
Nutrifood (Laode Hartanto) 08889115215
Esia (Pak Irshad) 081380901089
Sony Music (Pak Toto) 0818130132
Danone (Pak Adrian) 0817139228
Bank Niaga Ibu Riesa 081808400488
Kratingdaeng Bp Jhony 08568195658
BCA Ibu Wike 0812835180
Flexi (Pak Firdaus) 021-70733800
Honda (Pak Rofiai) 021-6510403
Panasonic (Bu Josephine) 021-8090108
Nissan 021-8582323
Jack&Jill (Pak Bernard) 085921213151
Kalbe Nutritionals (Luhur) 08159067856
Sidomuncul 021-7653535
Mustika Ratu (Bu Lena) 021-87703685
Bakrie (Bu Rina) 0816730991
Ultra Milk (Pak Deni) 08176875501
Sosro (Pak Rahmat) 021-93173113
Walls (Pak Sugi) 081311430020
Nestle (Pak Vikko Wira) 0811412312
Campfood (Pak Wawan) 0818816590
Satelindo (Pak Didi Korompis) 0816108108
Indofood 021-57958822
Milo (Pak Irvan) 08567272196
Gramedia (Bu Rita) 021-75483800
Coca Cola (Pak Gery) 08567066533
Pocari Sweat (Pak Nofriandi) 021-7697475
HiLo Teen 021-46829451
RCTI (Pak Wahyu Ramadan) 08112225678
Trans 7 (Batara Anggasani) 08129630205
Astra (Pak Didin) 08161352569

Senin, 20 Juli 2015

REVIEW The Gallows, Berhasil Bikin Kaki Lemes! on 20 Jul 2015

Awalnya, lo pasti ngerasa nggak minat banget nonton film ini karena nggak ada yg rekomendasi atau nggak ngehits. But, lo salah, Guys!

Dari berbagai laporan, film ini disebut cukup dibuat dengan USD 100 ribu atau setara Rp 1,3 miliar aja. Hasilnya, setelah tiga hari rilis, sejak 12 Juli kemarin, filmnya sudah mengumpulkan USD 10 juta. Sudah termasuk untung banget, kan?

Pertanyaannya, kenapa The Gallows bisa dibuat demikian murah meriah?

Tengok aja filmnya dan lo langsung tahu jawabannya.

The Gallows bersetting sekolah. Alkisah, di sebuah sekolah bernama Beatrice High School terjadi kecelakaan mengenaskan tahun 1993. Drama "The Gallows" yang dimainkan murid SMA berakhir nahas saat seorang pelakonnya tewas terjerat tiang gantungan.

Cerita lalu meloncat ke masa 20 tahun kemudian. Di SMA yang sama, drama "The Gallows" kembali siap dipentaskan.

Seorang murid cantik, Pfeifer (Pfeifer Brown) yang giat mengagasnya. Bintang tim football SMA, Reese (Reese Mishler) yang naksir Pfeifer juga ikutan main padahal ia tak punya bakat main drama.

Sahabat Reese, Ryan (Ryan Shoos) kemudian mengajaknya untuk melakukan sabotase, merusak set panggung di malam sebelum pertunjukan yang bakal bikin drama batal dipentaskan. Pacar Ryan, Cassidy (Cassidy Gifford) minta turut serta. Nah, nggak ada yang kalian kenal dari aktor-aktrisnya?

Saat Reese, Ryan, dan Cassidy merusak set panggung tiba-tiba muncul Pfeifer. Kejadian ganjil pun lalu terjadi. Semua pintu tiba-tiba terkunci. Mereka terkurung dalam sekolah. Sesosok makhluk menyeramkan dengan senjata tali tiang gantungan siap meneror mereka.

Cerita The Gallows sesederhana itu. Settingnya hanya sekolahan. Lalu hanya butuh empat pemain utama untuk memerankannya. Semuanya juga tak kita kenal.

Hal itu membuat film macam begini bisa dibuat dengan biaya nurah untuk ukuran Hollywood. Tambahan pula, konsep penceritaannya adalah dokumenter atau bahasa perfilman disebut "found footage", penonton diberi suguhan hasil rekaman kamera yang seolah disorot oleh karakter di film. Cara ini terbukti efektif di franchise Paranormal Activity.

Oke, kita sekarang sudah paham gaya Blumhouse Productions meraup untung. Bagaimana dengan hasil akhirnya lewat The Gallows ini?

Seperti kebanyakan film horor produksi mereka, yang diandalkan The Gallows juga adegan-adegan yang bikin kaget. Konsep rekaman kamera yang dipegang salah satu tokoh membawa kita, penonton, pada kenyataan kita nggak pernah tahu apa yang bakal terjadi. Di film horor, unsur kejutan ini jadi jualan utama.

Di The Gallows, meski tokohnya tampak cerewet menjelaskan plot cerita, kita masih berhasil dibuat kaget dan ketakutan. Untuk yang satu itu formula Blumhouse Productions dengan The Gallows-nya masih berhasil. Dan gue cukup puas dengan merasakan lemas di bagian kaki.

(reff: Ade I)

Kamis, 18 Juni 2015

Ramadhan Datang Ketika Salju Turun


Np: Ramadhan tiba - Opik

Di Amerika, Ramadhan datang diam-diam. Seperti angin. Tidak ada suara beduk bertalu-talu yang mengingatkan tibanya tamu agung itu, bulan yang dinanti-nantikan umat Islam. Bahkan azan pun tidak terdengar di seluruh jalan Amerika, tidak ada Mesjid yang mengumandangkan azan melalui pengeras suara. Maklum saja, ini negara yang menganggap agama adalah urusan pribadi. Panggilan solat yang terdengar nyaring oleh tetangga-tetangga non-Muslim pasti akan membuat mereka merasa terusik dan mengadukan hal itu pada polisi.
Bulan suci datang menjelang akhir musim gugur dan minggu terakhirnya berhimpitan dengan awal musim dingin. Karena matahari terus bergulir ke selatan, siang hari pun semakin pendek. Hal ini aku rasakan bersama penduduk Muslim di sebagian besar wilayah Amerika. Termasuk Mildwest. Di Dekalb misalnya, sebuah kota kecil yang berjarak 100 kilometer di sebelah barat Chicago. Pada hari pertama puasa di sini, solat subuh jatuh pada pukul 05.37 (berarti imsak pukul 05.27) sementara salat magrib pukul 16.26 Jadi, puasa berlangsung sekitar 11 jam.
“Sumaya, kamu kangen puasa di rumah nggak?” Resti memecahkan konsentrasiku yang sedang menikmati hujan salju dari balik jendela besar  apartemen.
Aku menganggukan kepala dengan wajah muram. “Banget, Ti.”
Me too.” Pipi lembut Resti mulai dibasahi oleh air matanya yang perlahan mengalir deras. Perasaan yang Resti alami, sama dengan perasanku sat ini.
Aku hanya bisa memeluknya erat dan mengusap punggungnya yang hangat. Aroma tubuh Resti yang sangat khas-something too sweet-membuat tubuhku sedikit rileks, wewaangian ini sama persis dengan wewangian yang biasa orangtuaku pakai. Aku seperti memeluk Ibu.
 Wajar saja jika para mahasiswa tingkat satu yang menuntut ilmu di Northen Illinois University  (sering disingkat NIU)  seperti kami merindukan suasana Ramadhan di tanah air, Indonesia. Karena di sini sama sekali tak ada gemuruh anak-anak penuh kebisingan, dengan alat-alat perkusinya yang membangunkanku saat sahur, tak ada acara sahur di teve yang biasaku nikmati bersama keluarga, dan tak ada parsel-parsel yang terbungkus rapi berisikan berbagai macam makanan manis berbaris di meja.
“Aku tidak merasakan suasana bulan puasa di sini,” Perempuan keturunan Sunda itu itu mengusap air matanya perlahan. “Aku kangen sahur sama masakan Ibu.”
“Ini resiko yang harus kita ambil, Ti” Aku berpura-pura tegar agar Resti tak semakin sedih dan kuat menjalani bulan puasa pertama ini di Negeri Paman Sam. “Aku juga kangen sama jajanan tajil depan rumah.”
Bagi para pendatang Muslim, kedatangan Ramadhan mengingatkan kami akan kampun halaman dan kenangan manis masa kecil dulu. Para pelajar muslim dari Indonesia, akan merindukan nikmatnya kolak pisang atau candil sebagai tajil ketika berbuka puasa, riuhnya tadarus Qur’an pada sebagian malam lewat pengeras suara mesjid, dan dar-der-dor-nya suara petasan.
Aku dan Resti hanya bisa berkirim e-mail mengucapkan selamat ber-saum (“Ramadan Mubarak!”) dan saling mendoakan agar saum-nya penuh berkah pada keluarga dan saudara kami masing-masing di Indonesia. Aku mingirmkan sebuah voice note untuk keluargaku. “Assalamu alaikum, Ibu sama Ayah sehat? Adik-adik nggak bandel, kan? Suamaya minta doa dan restunya ya Yah.. Bu.. Semoga Suamaya kuat puasa di sini tanpa sayur bayam khas Ibu dan bentakan Ayah kalau Sumaya malas sahur. Aku sayang Ibu, Ayah, dan adik-adik.” Seketika air mataku menetes saat mendengar voice note itu memutarkan suaraku sebelum terkirim.
 Lalu, mereka membalas dengan kiriman rekaman vidio yang memperlihatkan aktifitas mereka di rumah untuk meyambut bulan puasa, sorot mata Ayah dan Ibu menyiratkan bahwa mereka juga merindukan kehadiranku di sana. Tapi hal itu sedikit mengobati kerinduan kami. Ya, sedikit.
 Kami lebih sering berbuka puasa di mesjid kampus dan biasa bertadarus untuk menunggu waktu buka tiba. Persaudaraan dengan sesama Muslim terasa lebih hangat karena banyak keluarga muslim di Dekalb saling bergilir menyumbang makanan dan minuman untuk berbuka  Makanan pembuka (tajil) biasanya adalah kurma.
Meski begitu, aku masih sering mendengar isak tangis Resti yang merindukan keluarga dan masakan Ibunya di Bandung. Tidak begitu berbeda dengan Resti, aku lebih sering menangis ketika sedang solat malam karena teringat Ayah, ibu, dan ketiga adikku yang masih kecil.
Untuk mengalihkan kerinduan itu, kami berdua sering berbincang-bincang dengan orang Indonesia sambil menunggu Isya tiba, Ibu Evi misalnya. Ibu rumah tangga yang berasal dari Aceh itu sudah menjalani bulan puasa ketiganya di Amerika.
“Awalnya memang saya sangat merindukan suasana bulan puasa di Indonesia,” Wanita paruh baya iitu menarik nafas sebelum melanjutkna kata-katanya. “Tapi pada akhirnya saya menemukan cara untuk mengatasinya.”
“Bagaimana caranya, Bu?” Aku dengan sigap bertanya.
“Memutar musik gambus modern di rumah, saya sering melakukan itu dulu saat tinggal di Indonesia.”
Resti menaruh tangan kanan di bawah mulutnya, tanda sedang memikirkan sesuatu. “Jadi maksud Ibu kita harus ngelakuin hal yang biasa kita lakuin saat bulan puasa di Indonesia?” Tebak Resti cepat.
“Anak yang pintar, let’s try!” Ibu Evi tersenyum ramah pada kami.
Ya, meskipun kerinduan kami pada tanah air itu tak akan pernah terbayar oleh apapun tapi paling tidak, berbagi kerinduan antar sesama warga Indonesia di sini sangat menyenangkan untuk kami.
Aku sering berpikir Mengapa pengalaman puasa pertama di negeri orang cenderung menjadi kenangan abadi? Penyebabnya adalah salah satu prinsip persepsi , “hukum kepertamaan” (law of primacy). Sesuatu yang dialami pertama kali itu biasanaya sering kali diingat dan dikenang. Hal ini aku pelajari dari dosen ilmu komunikasiku di NIU. Dalam berpuasa, banyak diantara kita yang Muslim sejak lahir mungkin masih mengingat bagaimana kita menahan lapar dan haus pertama kali, meskipun samar-samar. Hukum kepertamaan itu sangat dirasakan oleh orang yang baru masuk Islam saat mereka dewasa dan merasakan bagaimana puasa pertama kali. Di Dekalb pun banyak mualaf yang membagi kisahnya pada kami.
Carol adalah salah satunya, mahasiswa politik di NIU itu sering bmenceritakan bagaimana caranya beraktifitas di negeri Paman Sam ini saat bulan puasa. Bahkan yang mengejutkian dia hanya berpuasa sendirian di antara keluarganya, karena keluarganya masih memeluk agama Kristen. Carol mengahabiskan waktu berpuasanya dengan cara membaca buku-buku tentang Islam agar memperdalam keislamannya. Serta menyelesaikan tadarus Al-Qur’am setiap usai salat fardu.
Di sini, Aku dan Resti banyak sekali mengenyam asam-manis umat muslim yang menjalani puasa di negeri yang bukan mayoritas beragama Islam. Perjuangan, semangat, dan niat ikhlas menjadi tiang mereka untuk terus berpegangan. Dan betapa malunya aku jika mendengar anak-anak yang sudah cukup umur tapi masih tidak melaksanakan berpuasa dengan alasan “takut kelaparan dan kehausan”.

Kisah ini diangkat dari kisah nyata saudara perempuan saya yang menuntut ilmu di negeri Paman Sam, semoga dapat bermanfaat untuk menjadikan motivasi bahwa kamu tidak sendiri berjuang melawan kerinduan saat bulan puasamu tiba dan jauh dari keluarga.

Selasa, 31 Maret 2015

Satu

Satu adalah nominal dan nominal itu hal yang pasti...
Tapi bagaimana dengan hal yang tidak bisa divisualisasikan?
Misalnya seperti pahala, dosa, cinta.. Ya, cinta juga tidak bisa divisualisasikan?

Tapi kenapa ada menduakan cinta, cinta segitiga, atau cinta satu-satunya? Siapa yang salah kaprah?

Dengan demikian, sekarang gue sadar yang benar-benar nggak bisa dinominalkan adalah keikhlasan yang pertama. Saat kita ikhlas membantu oang, hal itu tak terhitung kebahagiannya... Tak terhitung dampaknya... Dan juga tak terhitung nilainya..

Karena sebuah kesan pertama saat kita mengikhlaskan cinta kita, itu akan menjadi hal yang berlainan dan berat. Namun, setelah kita sadar.. keikhlasan cinta hanya dimiliki orang-orang yang berjiwa besar dan senang berderma...

Waktu yang tak bisa diputar lagi membuat kita dirundung duka..
Rasa duka, tak ada rasa duka yang ditigakan, diduakan, atau duka satu-satunya..

Kamis, 05 Februari 2015

Menulis Sebuah Artikel Majalah

Sebagian besar petunjuk mengenai bagaimana cara menulis tercakup dalam butir-butir di bawah ini.

1. Tulislah Naskah Pertama Anda dengan Bebas dan Menyeluruh.

Tulis semua subjek tulisan yang ingin Anda sampaikan. Setelah itu, potong bagian yang berlebihan, perbaiki penulisannya, dan tulis dalam ukuran yang tepat untuk sebuah majalah. Jika naskah telah selesai, baca lagi secara menyeluruh. Kemudian ujilah, apakah tulisan itu mudah dibaca atau tidak.

2. Buatlah Kalimat Awal yang Menarik Perhatian.

Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu pada kalimat awal. Tulis saja artikelnya dan kemudian kembali ke atas untuk memeriksa pendahuluannya. Pada saat inilah Anda dapat memperbaiki atau menulis sekali lagi pendahuluan itu.

3. Menulislah dengan Gaya yang Hidup dan Mudah Dibaca.

Anda harus selalu bersaing dengan penulis lain untuk memperebutkan perhatian pembaca. Penulisan sebuah artikel yang menarik memerlukan:

a. kata-kata yang dimengerti pembaca

b. kalimat-kalimat yang memberikan gambaran dan imajinasi yang jelas dalam pikiran pembaca

c. kata kerja dalam kalimat aktif, yang mengungkapkan seseorang melakukan sesuatu kepada orang lain.

4. Tulislah Kalimat dengan Jelas

Ungkapkan satu pemikiran dalam satu kalimat. Hindari usaha menyelipkan materi yang dipisahkan oleh tanda kurung atau garis pisah. Hindari kalimat yang panjang dan rumit. Gunakan kalimat pendek sebisanya, yang jumlah katanya kurang dari lima belas. Kalimat panjang jumlah katanya di atas tiga puluh. Kalimat sedang, tentu saja, kira-kira di antara jumlah keduanya. Tujuannya agar bacaan terasa menarik dan mudah dimengerti. Sering kali kalimat pendek itu membantu memberi penekanan pada poin-poin yang penting. Namun pengulangan pemakaian kalimat pendek yang terlalu banyak, kecuali kalau digunakan untuk sebuah penekanan, dapat mengganggu jalan pikiran atau membuat tulisan itu melompat-melompat dan kekanak-kanakan. Di lain pihak, kalimat-kalimat panjang membuat bacaan menjadi sulit dan terkadang membingungkan bahkan dapat menghilangkan keinginan untuk membaca.

Untuk memberi keragaman pada tulisan Anda, ragamkanlah konstruksi kalimat-kalimat yang Anda gunakan. Jagalah jangan sampai digunakan pengaturan subjek, kata kerja, atau kata sifat yang begitu aneh sehingga pembaca tidak dapat secara cepat menangkap maksudnya.

5. Buatlah Tulisan Anda Mengalir Lancar

Tulislah setiap kalimat dan alinea begitu rupa sehingga perpindahan ke kalimat atau alinea berikutnya tidak mengganggu jalan pikiran pembaca. Gunakan kata-kata dan kalimat transisi untuk membantu pembaca berpindah dari satu ide ke ide berikutnya. Anggaplah kata-kata transisi itu sebagai jembatan yang menghubungkan satu pemikiran lainnya. Biasanya kata transisi itu muncul pada awal sebuah alinea.

Memperbaiki Naskah Pertama

Semua penulisan yang baik merupakan hasil penulisan yang berulang-ulang. Sebagian besar penulis mengakui bahwa naskah pertama mereka belum otomatis menjadi hasil akhir. Orang yang menulis dengan bebas sering menulis dengan cepat, dan penulisan yang cepat tidak memberikan kesempatan untuk memperbaiki kata-kata, ungkapan-ungkapan, kalimat-kalimat.

Ketika seorang penulis menyelesaikan artikelnya, ia perlu membacanya kembali. Ia perlu memeriksa apakah ia telah menyampaikan apa yang ingin ia katakan dan telah menuliskannya dengan cara yang membuat pembaca dapat memahami maksudnya. Ia perlu mengorganisir kembali materi-materi yang diperoleh, memperbaiki kalimat, dan memperjelas penggunaan kata-kata transisinya. Ia perlu menuliskan kembali beberapa alinea dan memperbaiki beberapa ungkapan di alinea lainnya. Yang terakhir, seorang penulis perlu memperbaiki penulisan dan ejaan atau tanda baca yang salah.

Jika penulis telah puas dengan hasil kerjanya, baru ia dapat mengirimkannya kepada penerbit dengan harapan agar tulisannya tersebut dapat dimuat.

Jumat, 30 Januari 2015

Band Part: One


 
“Ki, kita kan udah lihai nih mainin alat musik. Kita ngebentuk band aja, yuk!” Ajak Firdy sambil bercermin, dan nyukurin bulu hidungnya yang sudah lewat garis penalty.

Rizki ngelirik gue, gue ngelirik Kakung, dan Kakung ngelirik kaca. Kacanya pecah.

“Gue sih setuju aja, tapi kita kan nggak punya vokalis.” Jawab gue ragu, sambil memijit-mijit dagu.

“Itu sih bisa berjalan. Yang penting kita bentuk aja dulu!” Tepis Firdy,  bersamaan dengan cabutan pertama bulu hidungnya. “Walaupun kita di pesantren, tapi kita bakal bisa terkenal juga. Buktinya kayak band Wali, banyak duitnya, Cuy!”

Gue, Rizki, dan Kakung memasang wajah khawatir.

“Oke, kalau band Wali manggung pasti dilemparin duit. Kalau kita manggung pasti dilemparin knalpot racing,” balas gue.

“Itu proses! Nggak ada petinju yang nggak kena jotos, nggak ada band yang nggak kena timpuk, Cuy!” Firdy masih ambisus. Dari pada ruang musik diacak-acak sama dia, kita sepakat untuk menurut saja.

" Emang mau bikin band apa dan genrenya apa, gitu?” Rizki menengahi.

“Yesah!, genrenya Pop Islami!” Usul Firdy.

“Nama apaan tuh!?” Gue memasang wajah minta di tetesin Otem (Obat tetes mata).

“YESAH! Mantep, kan? Lawan dari NOAH.” Firdy merapikan poni rambutnya, meniru gaya Ariel. “Atau, Jijik, lawan dari Nidji?”

Maklumin aja, mungkin ini efek dari gurah otak yang dijalani Firdy minggu lalu.

“Yang lain?”  Tanya Rizky dengan wajah tidak tertarik dengan usul Firdy.

“One Oke Dong!” Usul Kakung semangat, “kan kita berempat, kayak One OK Rock.”

Kedengarannya agak mengganjal di gendang telingga. Dan agak morak untuk diucapkan di acara hajatan-hajatan. Tapi, tetepa ditampung oleh Rizky.

“Itu band apaan, Kung?” Tanya gue, merasa kudet abis.

“Itu band Jepang yang sering ngisi soundtrack  anime-anime keren. Kostum manggungnya juga cadas! Kayak Kirito di anime Sword Art Online.” Jelas Kakung sambil memberi isyarat  metal dengan jarinya. Pelajarana Hidup 2: Jangn kebanyakan nonton kartun.

“Ente gimana, Mas?”

“Gimana kalau Pelangi? Kita kan punya background genre musik yang beda-beda. Firdy pop, Kakung J-pop, Rizky EDM, dan gue heavy metal. Kita ngewakilin empat warna pelangi yang beda-beda! Merah, kuning, hijau, di langit yang biru.” Jelas gue.

“Tunggu, kalau pelangi terlalu feminim.” Protes Firdy. "Gimana kalau Rainbow Cake aja!"

Usul Firdy kali ini, bukannya nggak bagus. Tapi kesannya kayak empat cowok yang jadi sales kue raimbow cake di tempat CFD. Nggak ada unsur band-nya banget.

“Gimana kalau dikasih angka empat. Kita kan berempat, jadi Four OK Rainbows!” Usul Kakung, masih memaksakan kata ‘OK’ ditengahnya.

“...”

Rizky mulai memasang pose Jimmy Neutron sambil berkata ‘berpikir, berpikir, berpikir!’ lalu shoot camera masuk ke lubang telinganya.

*TING*

“Dapet! Gimana kalau The Four Ordinary Rainbows?” Cetus Rizky dengan wajah kelelahan, abis berpikir keras. Nge-hang.

Semuanya manggut-manggut. Ruang musik di pondok ini menjadi saksi bisu terbentuknya sebuah band yang penuh mimpi seperti pelangi. Merealisasikan lagu yang berlirik pelangi-pelangi alangkah indahmu merah, kuning, hijau di langit yang biru. Pelukismu Agung si.. CUKUP!

Sejak itulah, tepatnya tanggal 21 Oktober. Empat ‘mamen-mamen’ yang memiliki skill pas-pasan membentuk band amatiran. Dengan formasi, Rizki di gitar dan vocal, Gue di bass betot, Kakung di drum, dan Firdy di keyboard. The Four Ordinary Rainbows siap mengguncang kancah band kondangan dan selametan Indonesia.

JJJ

Bukan grup band ngetop kalau nggak ngelewatin bermacam-macam rintangan dan cobaan. Mulai dari gagal bikin album, gagal rekaman, sampe gagal move on, pasti udah jadi bagian menuju kesuksesan seperti band-band terkenal sekarang. Semisal Kuburan Band, Kangen  Band, atau  Bendungan Katulampa Band.

Hidup memang keras, hukum rimba tetap ada. Siapa yang kuat dia yang menang, dan yang lemah akan tertindas. Makanya banyak-banyak minum jamu biar nggak ditindas! Roso!

Jujur, ini pengalaman pertama gue ngebentuk grup band yang serius. Biasanya Cuma band cabutan yang dibentuk pra tujuhbelasan, dan dibubarkan setelah tujuhbelasan selesai. Umurnya Cuma satu hari, mirip laron.
Rizki yang kala itu paling mahir mainin semua alat musik (kecuali yang ditiup) membimbing gue, Firdy, dan Kakung yang masih kikuk berhadapan dengan alat musik masing-masing. Ya kikuk, bagaikan mau ketemuan sama gebetan yang kenalannya lewat Facebook. Malu-malu cemas, kalau aslinya nggak kayak di profile picture.
“Gimana udah apal semua kan kuncinya?” Tanya Rizki setelah mengajari kunci dari lagu Laskar Pelang yang dibawakan Nidji.
“Udah, Ki!” Jawab gue singkat.
The Ordinary Rainbows bakal tampil di pentas seni tahunan yang selalu diadain di aula pondok. Meski bass listriknya sering bunyi ‘nguing-nguing’ dan mike-nya sering bergema, misalkan lo bilang ‘hutang’, pasti bakal bergema ‘tang, tang tang,” tapi cuma itu pilihan satu-satunya.
“Kita nggak boleh malu-maluin nih, diliatin sama Kakak kelas soalnya,” kata Firdy mengisyaratkan larangan dengan jari telunjuknya.
Sementara Kakung sibuk ngaca pake simbal drum yang ditambal dengan lakban.
Hari itu dihabiskan semua personel The Four Ordinary Rainbows dengan latihan berat. Bagai atlet yang ingin olimpiade. Kami mengitari lapangan futsal, angkat jemuran (pengganti barbel), dan banyak mengkonsumsi sayuran (emang jarang dikasih daging).
Hari yang ditunggu telah tiba. Nama baik The Four Ordinary Rainbows di depaan senior dipertaruhkan di sini. Hanya ada dua resiko, pertama, diberi tepuk tangan, dan kedua diberi kepalan tangan. Sama-sama pake tangan sih, tapi yang kedua bikin bonyok.
Acara pentas seni ini diisi berbagai band-band amatir lain. Biasanya, band akan diselingi dengan pembacaan pidato dan puisi dari peserta lomba. Semua personel band amatir yang mau manggung (baca: caper sama Senior) mempersiapkan diri di backstage. Tapi, ada satu band senior kawakan, Qurotha.
Gue memandangi personelnya satu persatu. Berharap skill bermain musiknya pindah ke gue. efek terlalu banyak nonton Romy Rafael.
Yup, gimana nggak iri? Band ini udah nyiptain beberapa single. Dan, single-singlenya emang nge-hits di pondok ini. Tapi penampilan fisik juga jadi faktor pendukungnya, personel Qurotha (kata santriwati) ‘cool-cool semua’. Beda tipis sama The Four Ordinary Rainbows yang juga ‘cool’, bagaikan mayat formalin.
“Kita kebagian manggung ketiga. Kita harus siapin enerji!” Kata Rizki semangat, setelah melihat jadwal acara dari MC.
“Tanganku udah nggak sabar mukulin simbal!” Cetus Kakung, menunjukan matanya yang berbinar-binar. Bukan, bukan efek contacklense.
“Tapi kata MC, nama band kita kepanjangan. Disingkat aja. Jadi apa ya?”
Gue garuk-garuk rambut lalu minjem handphone Ustaz Ochid, pura-pura nyari refrensi. Biar terlihat ‘sedikit’ pintar. “Hmmm.”
“Dapet, Mas?” Tanya Rizki.
“Bentar, masih searching for opponents,” jawab gue sambil mainin game Clash Of Clans di handphone Ustaz Ochid.
“SERIUS WHOY!!!”
“TOR aja?” Usul Firdy.
Dengan cepat Kakung membayangkan, kita berempat berpose ala The Avenger. “Kok mirip jagoan di de apenjer ya?” Celetuk Kakung. Pelajaran Hidup 2: JANGAN KEBANYAKAN NONTON!
“...”
“T-40r, gimana?” Tanya gue, sambil memakai  kacamata hitam dan menaikan kerah kemeja. “Sepintas kedengerannya kayak F4, geng cowok keren di film Meteor Garden itu!”
“Usulnya sih bagus, tapi alasannya agak nganu ya,” Kakung mengusap-usap dagunya, menimbang-nimbang, antara mirip F4 atau The Avenger.
“Oke, gue YES,” kata Firdy sambil melirik ke arah Rizki yang manggut-manggut setuju.
JJJ
Matahari sudah semakin terik, jadwal manggung T-40r diserebot beberapa kali sama band lain. Alasannya bervariasi, mulai dari,
‘Kak, drummer saya kalau siang ortunya ngejenguk, saya manggung pagi aja ya.’,
‘Kak, pokalis saya lagi diare, nggak bisa nunggu kelamaan, nanti takut bablas di celana.’,
atau ‘Kak, saya takut lupa kuncinya kalau kelmaan, saya manggung pas awal aja.”
Buat yang terakhir, rasanya gue mau bilang “Gue juga nggak apal kuncinya, WOY! GUE NYATET  KUNCINYA DI TANGAN!” Sambil nunjukin telapak tangan gue yang penuh sama kunci, sepintas terlihat seperti huruf hiragana yang di tulis anak SD.
Untungnya Firdy masih nepuk-nepuk punggung gue. “Sabar, Dim, guest star munculnya belakangan.” Firdy mencoba meredam emosi gue.
“Kita udah nunggu dari pagi, tapi udah siang gini masih belum tampil juga. Kalau dari awal dijadwalin siang kita kan bisa pake buat prepare lagi.” Gue memandang semua personel, memandang raut wajah mereka yang juga sudah lelah.
“Gue mau balik ke asrama, lo semua bisa tampil tanpa gue!” Gue berbalik. Membelakangi mereka, lalu berjalan dengan berat. Gue nggak nyangka kalimat itu muncul dari mulut gue. Ini udah melebihi dari sekedar ‘ngegampangin’ tapi lebih ke ‘melecehkan’. Mentang-mentang grup band baru dari santri junior yang upilnya suka buang sembarangan mereka memandang dengan sebelah mata.
“Tapi, Mas.” Rizki memanggil gue, berharap gue berubah pikiran.
“Udah jelas, kan? Gue mau balik ke asrama.” Gue sedikit menengok.
“Pinjem pick-nya, boleh? Kan ente nggak pake,” tanya Rizki dengan eksperesi seperti perokok yang bilang ‘bagi apinya dong, Sob.’
Suana hening.
“ENGGAAAK!” Gue berbalik, melangkahkan kaki dengan mantap.
“Mas,” Rizki memanggil gue lagi.
“Gue bilang enggak, ya enggak!”
“Itu jalan ke mesjid, kalau asrama ke sana.” Rizki menunjuik arah yang berlawanan.
Gue cengok, lalu berpikir cepat “GUE MAU SOLAT TOBAT!”
“...”
JJJ
Sesampainya di kamar, rasa sesal pun datang. Sebagai manusia normal yang memiliki satu hidung dan dua mata, gue menyesali kata-kata gue barusan.
“Kenapa harus begini akhirnya?” Gue ngomong sendiri di depan cermin. “Apa salah gue? Apa karena personil kita nggak ada yang  bisa perform sambil jugling? Apa karena muka personel T-4or beler semua? Siapa yang salah?! SIAPAAA!? SIAPAAA!?”
“BERISIK LO! GANGGU ORANG TIDUR AJE!” Teriak seorang senior dengan nada murka, lalu spatu futsal melayang dari belakang.
*HEADSHOOT!*
Sepatu itu menghantam otak belakang gue. Seketika detak jantung gue langsung delay.
“Maap, maap, Bang,” kata gue sambil mengelus-elus kepala. Berdoa, semoga hafalan rumus perkalian gue nggak keformat karena spatu itu.
Beberapa saat kemudia, Firdy dan Kakung datang dengan wajah muram dan kelelahan, mirip siswa yang selesai ngerjain  algoritma. Kusut lahir dan batin!
“Udah beres, performnya?” Tanya gue, menyembunyikan rasa sesal nggak ikut caper sama senior.
Mereka berdua masih diam. Entah, mungkin mereka masih terpukul dengan kata-kata gue.
“Jangan baeran gitu, gue tadi cuma capek aja. Next time, gue pasti ikut kok.”
“Gue juga udah capek,” balas Firdy.
“Mungkin mereka nyepelein kita,” tambah Kakung.
Sepertinya, keadaan memburuk setelah gue pergi. Mereka belum kunjung tampil. Sekarang, hanya tinggal Rizki yang masih menanti di sana.
“Gue udah bilang sama Rizki kalau kita ngunduruin diri aja.” Firdy merebahkan tubuh gempalnya ke kasur Fahmi. Kasurnya anjlok.
Mendengar itu, gue cuma bisa terdiam. Bukan, bukan soal kasur anjloknya, tapi soal kejadian ini. Rizki yang masih kekeh menunggu sementara gue, Firdy, dan Kakung sudah lelah menunggu. Kalaupun nanti T-40r dipanggil. Apa mungkin Rizki perform sendirian? Gue mikir keras sambil ngebayangin Rizki mainin semua alat musik sendirian.
Kepala gue didera sakit kepala mendadak. Maklum, otak gue nggak biasa dipake mikir keras. Kalau udah begini, tidur adalah solusinya. Gue melirik ke arah Firdy dan Kakung yang sudah tertidur di kasur Fahmi yang anjlok tadi. Dengan cepat gue memenjamkan mata dan tertidur, berharap semua masalah ini terlupakan.
JJJ
“Dimas, Dimas, banguuun.” Suara merdu seorang perempuan menyusuri telinga gue.
Perlahan gue membuka mata, mencari pemilik suara tadi. Mata gue terbelalak saat melihat perempuan yang berdiri di depan gue. Melody JKT48!!!
“Ka, Ka, Kak Melody?” Tanya gue gelagapan, segera gue memakai kacamata, takutnya itu hanya fatamorgana Bibi dapur.
“Bangun doong, Dim,” Kak Melody menarik-narik selimut gue. Ternyata bener, dia Melody JKT 48!
‘I, i, iya, Kak.” Gue menelan ludah, “ada apa yah, Kak?” gue gemetar, gugup.
“Ayo siap-siap, kita udah dipanggil buat perform!” Teriak Kak Melody.
“Hah!? Perform apaan?” Tanya gue, kebingungan.
“PELFORM T-4OL! BURUAN BANGUN!” Suara Kak Melody berubah menjadi suara Rizki. Mimpi gue buyar diikuti dengan hentakan Rizki.
 ‘Kampret! Melodynya berubah jadi Rizki,’ batin gue dengan memajang wajah masam memandang Rizki yang berganti membangunkan Firdy dan Kakung,
“Gue kan udah bilang, gue nggak mau tampil, Ki,” seru gue.
“Kita udah dipanggilin dari tadi, Dim. Ini kesempatan kita!” Rizki meyakinkan gue.
Gue memandang telapak tangan gue, contekan kuncinya pun sudah luntur. Entah oleh keringat atau iler gue. “Next time aja, Ki” Gue kembali menyelimuti diri.
Begitupun Firdy dan Kakung. Mereka menolak tampil dan lebih memilih melnajutkan tidur.
Malam harinya. Kak Iron mengumpulkan T-40r, ia merasa bertanggungjawab atas adegan ‘ngambek’ siang tadi.
“Lo pada kenapa? Gue diem, lo minta-minta tampil, gue panggil-panggil buat tampilmalah pada ilang.”
Semua terdiam dan tertunduk. Perasaan Malu, marah, kecewa bercampur aduk.
Untungnya Kak Iron mengumpulkan gue dan lainnya di kelas. Lebih aman dan nggak jadi tontonan santri lain.
“Kita diserobot terus, Kak,” jawab gue mencoba membela diri.
“Digituin aja udah ngambek, mau jadi band apaan lu?” Kak Iron memandang gue serius.
“Tapi, kita ngerasa dilecehin, Kak. Bayangin aja kita udah prepare ini-ituuu...”
“Nggak ada kesuksesan yang instan, brader.” Kak Iron mengisyaratkannya dengan mengayunkan tangannya. “Kalau lu pada mau jadi band beneran. Ya, minimal terkenal sekelas Qurotha. Lu pada kudu tahan banting! Ngerti?” Kak Iron sedikit meninggikan nada di kata terakhir.
Gue tertunduk, memutar bola mata ke arah Rizki yang sedang serius memperhatika Kak Iron, Firdy yang merasa menyesal dengan kata-katanya, dan Kakung.. yang lagi nyontek PR fisika punya Rizki.
“Kung, lo bisa serius dikit, nggak? Ngerjainnya kan bisa nanti,” bisik gue ke arah Kakung.
“Kalau dientarin, nanti aku lupa, Mas,” jawab Kakung serius tanpa memalingkan wajahnya ke arah gue.
“Ah pe’a!” Gue membenturkan kepala ke meja. Langsung benjol.
Rounded Rectangle: Ekspetasi:
Bikin grup band – Bikin lagu – Latihan – Bikin album – Manggung – Promo di TV – Terkenal - Kaya
Realita:
Bikin grup band – Ngumpulin personel – Bikin lagu – Latihan – Ngeband di kondangan – Ngeband di khitanan – Bikin almbum – Album nggak laku – Dagang somay.   

“Dengerin kata-kata gue, kalo lu pada pengen jadi band kek, pengusaha kek, artis kek semua itu perlu usaha. Pasti sakit-sakitan dulu, nggak ada yang langsung sukses. Kalaupun ada Cuma jadi artis numpang lewat.”
Ekspetasi:
Bikin grup band – Bikin lagu – Latihan – Bikin album – Manggung – Promo di TV – Terkenal - Kaya
Realita:
Bikin grup band – Ngumpulin personel – Bikin lagu – Latihan – Ngeband di kondangan – Ngeband di khitanan – Bikin almbum – Album nggak laku – Dagang somay.   

Kak Iron menjelaskan panjang lebar di papan tulis, mirip dosen yang ngajarin mata kuliah filsafat. Ngerti nggak, ngantuk iya.
“Ngerti lu pada?” Kak Iron baru menoleh ke arah kami, setelah sekian lama menjelaskan panjang lebar menghadap papan tulis.
Nyawa gue, Rizki, Firdy, dan Kakung sudah berada di alam mimpi masing-masing.
“WHOY! KURANG AJAR LU PADA YE!” Kak Iron teriak sambil menggebrak papan tulis, kita masih nyenyak tidur.
Hari itu menjadi awal yang buruk untuk T-4or. Tapi, karena hal ini kami menjadi lebih tertempa dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Lebih menjadi tahan banting untuk mendapat kesuksesan, minimal bisa caper sama senior cewek. Ya, namanya juga jomblo lagi usaha.

JJJ