Tampilkan postingan dengan label cerita singkat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita singkat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 September 2014

Pengantar Pesan

"Desain bangunan dan tata letak pencahayaannya bagus. Pasti dia ngebayar mahal arsitek yang ngedesain bangunan ini," Celoteh Mona sambil memperhatikan bangunan kantor yang bergaya Eropa dengan kaca lebar dan pintu besar.

Seseorang berjas memperhatikannya sejak tadi. Sedikit tersenyum. Tapi, tetap bungkam untuk terus mengamati Mona. Tidak banyak yang berteduh di tempat itu. 

Ya, Bekasi sedang tidak seperti biasanya, kota patriot itu sedang diguyur hujan disertai angin sore itu. Mona berdiri di depan pertokoan untuk meneduh dari hujan yang semakin lebat, dia meminggirkan posisi motornya agar tidak kehujanan. Merapikan semua surat-surat dan memasukkan ke dalam ranselnya yang anti air. Entah sudah berapakali ia harus meneduh dan terpaksa menghentikan perjalanannya karena hujan angin yang terus mengguyur Bekasi beberapa hari belakangan ini. Tak sedikit juga motor-motor yang memilih meneduh di sini daripada terus menerjang hujan dan jalanan yang sudah mulai digenangi banjir.

"Maaf, kamu kurir?" Tanya seorang pria dari sisi kanan Mona.

"Iya betul," Jawab mona singkat dan belum sempat memandang si pemilik suara itu, karena ia sibuk membenahi surat-surat agar muat masuk ke dalam ranselnya.

"Unik yah."

Mona mengeryitkan dahi dan memalingkan wajahnya ke orang itu. " Unik apanya? Biasa aja." Gadis itu kembali merapihkan surat-surat yang sedikit basah dan sesekali menngelap air di amplop-amplopnya.

"Saya baru pertama kali ngelihat perempuan kerja jadi kurir," ujar pria tersebut. "Dan, suka memperhatikan bangunan."

 "Emangnya salah kalau perempuan kerja jadi kurir terus suka merhatiin interior bangunan? Nggak semua perempuan harus jadi koki rumah, kan?" Balas Mona.

Pria berjas lengkap tersebut tersenyum tipis. "Emangnya jadi kurir itu pekerjaan yang menyenangkan?"

"Semua pekerjaan bakal menyenangkan kalau dikerjain dengan hati, Pak" jawab Mona dengan lugas, seperti sudah ribuan kali ia ditanyakan hal itu.

Melihat hujan mulai reda, Mona merapatkan resleting ranselnya, melangkah mendekati motornya sambil memakai helm fullface-nya.

"Saya duluan ya, Pak," Mona melempar senyum simpul pada pria tadi, Gadis itu sudah terbiasa memberikan senyumannya pada setiap orang yang ia temui, maklum saja. Seorang kurir bertemu ratusan orang yang berbeda tiap harinya.

"Tunggu sebentar," pria itu merogoh sesuatu dari kantung jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama, " ini kartu nama saya, kalau kamu berubah pikiran dan merasa bosan sama kerjaan kamu. Kamu boleh temuin saya."

"Oke," Kata Mona sambil menerima kartu nama itu lalu bergegas menyalakan motornya.

Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum tipis dengan sejuta makna. Motor Mona melesat dan meninggalkan ruko bercat abu-abu tua, tempatnya berteduh tadi.

><>< ><><
Keesokan harinya.

Fisik Mona sudah biasa berjam-jam dipaksa mengendarai motor dengan tumpukan amplop di sisi kiri-kanannya. Kemacetan, Polusi udara, dan teriknya panas matahari sudah menjadi makanan sehari-hari yang ia cerna. 

Gadis ini adalah satu-satunya kurir perempuan di cabang Bekasi Selatan, ia tak pernah canggung dan tak sedikit pun ada rasa malu saat mengantarkan paket atau surat ke penerimanya. Di pikiran Mona, "Selama aku tak berbuat salah kenapa aku harus malu?"

Mata Mona sering memperhatikan bangunan-bangunan yang ia lihat di jalan mulai dari model minimalis, mewah, sampai yang bergaya kebarat-baratan dengan pilar besar yang menopangnya. Bagi Mona, melihat bangunan-bangunan itu adalah cara menghibur diri dari kepenatan macet di kota Bekasi ini. Ternyata menghibur diri itu mudah.

Mona duduk di sebuah kafe yang buka dua puluh empat jam dan tak begitu ramai. Design kafe ini sangat baik dengan sedikit campuran industrialis dan kontemporernya, membuat pengunjungnya tak akan jenuh jika duduk berjam-jam di sini. Di tambah lagi dengan alunan musik jazz yang menggema keseluruh ruangan. Aroma pewangi ruangan ini juga menjadi alasan Mona masih duduk bersandar, melepas lelahnya. Entah wangi apa itu, somthing too sweet.

Tangan kanan Mona mengambil ponsel dari saku jaketnya dan tak sengaja kartu nama dari pria berjas tadi ikut terambil bersama ponselnya, "Surya Ilham, Owner The Kings Coffee, Bekasi Selatan" Mona terdiam sejenak dan menengok ke depan pintu kafe itu malalui jendela besar di dekatnya, lalu mengarahkan matanya pada sebuah poster yang menempel di papan kayu besar berukir motif bernuansa Mandarin tepat di atas pintu masuknya yang bertuliskan, "Kings Coffee, More Than The Coffee".

Moa mngeryitkan matanya. Ini kafe yang orang itu maksud? Ah, ini cuma kebetulan,” Batin Mona.

“Mba, nama pemilik kafe ini Surya Ilham ya?” Tanya Mona pada seorang pelayan yang berseragam lengkap.

“Iya, Mba kenal?”

“Ng-nggak, saya pernah ditawarin kerja di sini.”

"Oh, terima aja, Kak! Pak surya itu orang blasteran Cina-Bandung, jadi beliau bisa ngeliat mana orang yang nggak punya potensi dan mana orang yang berpotensi," jelas pelayan itu sambil mengepel lantai hitam-putih yang tersusun rapi sebagai alas kafe ini.

“Mbak tau dari mana Pak Surya blasteran Cina-Bandung?” Tanya Mona penasaran.

“Pak Surya suka cerita kalau lagi rapat, nama asli beliau itu Sun Ji. Beliau dari keluarga Cina miskin di Bangka. Karena dia mau ngangkat finansial keluarganya, dia nekat ngerantau ke Jakarta. Kerja ini-itu belasan tahun, sampe sekarang udah bisa bangun kafe ini. Hebat yah beliau!” Jelas pelayan itu bersemangat.

Penjelasan itu membuat Mona terkaget-kaget dan tak habis pikir, ia lemas dan sangat tak percaya. "Surya adalah Sun! Sun sahabat dekatku sejak SMP yang selalu menemaniku dihukum di kelas, selalu membantuku belajar matematika di belakang kantin, yang selalu membelaku saat aku di-bully teman-teman. Dia cinta pertamaku, pangeranku yang lama pergi merantau ke Jakarta lalu pergi hilang entah ke mana," batin Mona.
Kakinya sudah lemas untuk berdiri dan perlahan air matanya keluar jatuh melintasi pipi lembutnya dan jatuh ke lantai dingin kafe itu, semakin deras dan semakin pilu rasa rindu yang membuncah hatinya saat ini.

"Kakak kenapa, apa kakak sakit?" Pelayan itu membantuku berdiri dan memapahku untuk duduk di kursi kayu halus di dekat kasir.

"Ti, tidak." Mona tak mampu mengeluarkan suara apapun, kerongkongannya mengering dan seakan ribuan momen indah bersama Sun melintas di pikirannya. Klise-klise kebersamaan dengan Sun telah ia simpan rapih di kotak kaca hatinya dan telah lama tak dibuka bahkan ia ingat-ingat lagi.

"Wajah kakak pucat banget. Saya, ambilin air hangat dulu yah, Kak," Pelayan itu pergi, masuk ke sebuah pintu besar bertulisan ‘Dapur’.

CRING!

Suara lonceng di pintu depan yang didominasi dengan kaca transparan, menandakan ada seseorang yang masuk ke restoran dari pintu depan. Mona menghapus air matanya, tak mau lagi ada orang lain yang melihat ia sedang menangis.

Ternyata yang masuk adalah Sun. Dia tersenyum simpul melihat Mona, “Wah cepat sekali kamu berubah...” Kata-kata Sun berhenti, senyumnya pun memudar saat memperhatikan mata Mona yang sembap.

“Kamu kenapa nona kurir?” Tanya Sun dengan khawatir..

“Sun, kenapa dari awal kamu nggak bilang kalau kamu itu SUN!” Mona berteriak sambil mendorong Sun.

Bibir Sun beku seketika, dia tak percaya mengapa Mona bisa tahu secepat ini. “Ma.. maaf, Mona,” Sun menarik napas panjang, “Sebenarnya dari pertama aku ngeliat kamu, aku udah yakin itu kamu. Di tambah liontin yang kamu pakai itu.” Sun menunjuk liontin putih yang tergantung di leher Mona.

“Kenapa nggak bilang langsung?!’ Tangisan Mona semakin menjadi, menggema ke seluruh ruangan mengalahkan alunan musik jazz.

“Aku mencari waktu yang tepat.”

“Untuk apa?!” Mona menutupi mulutnya dengan tangan karena tak kuat lagi menahan rasa rindunya.

“Untuk melamarmu.”

Kata-kata itu membuat tubuh Mona lemas dan tersungkur, tenggelam dalam pelukan tubuh Sun yang tegap.

“Maafin aku ya. Kamu nggak bosen nungguin aku, kan?"

Mona menggelengkan kepalanya sambil menahan dirinya yang mulai kehilangan kesadaran.


Cerpen ini diikut sertakan pada #Tantangan #DeskripsiInterior  daari @KampusFiksi. Semoga masih nyambung sama tema dan semoga nggak ada typo. :)

Selasa, 02 September 2014

The Thousand Of Minarets Country (MESIR)



(by Rizki Ayu Amaliah)
Langit cerah dan isak tangis keluargaku menjadi saksi keberangkatanku untuk menuntut ilmu di negeri 1000 menara. Kucium dan kupeluk erat mbah putri dan ibuku. Kupeluk sosok yang mulai tua renta dimakan usia, sambil kuusap butiran air mata yang membasahi pipinya.
“Mbok, ojo nangis yo ! Ningrum, tidak ingin melihat isak tangis yang terpancar dari wajah simbok, tapi mengharapkan uluran doa, agar Ningrum selamat sampai tujuan.”
Dan akhirnya, tatapan terakhir kutujukan pada ibundaku tercinta yang berlinangan air mata. Begitu sulit beliau melepaskanku.
“Nak, ibu belum sanggup berpisah denganmu, dengan jarak yang begitu jauh.”
“Bu, inilah impianku, meski ku sadari akan banyak rindu yang tumpah tiap malamnya, akan ada banyak rasa cemas yang menyelimuti, dan semakin banyak air mata yang akan tumpah karena perpisahan ini, namun inilah impian dan cita – cita yang harus mengorbankan segalanya.” Ujarku sambil menahan tangis.
“Lalu, siapa yang akan menemanimu ketika sendiri, nak? Siapa yang akan menjagamu ketika sakit?”
“Bu, ikhlaskalah kepergianku untuk merantau ke negeri orang.”
“Bismillah, Insya Allah, Nak.”
Pilu rasanya melihat genangan air mata di pelupuk mata mereka, dan dengan bibir yang terasa berat, kuucapkan “Assalamu ‘Alaikum” kepada mbah putri dan ibuku dan berbalik menuju pintu bandara.
Pesawat Kuwat airlines yang kutumpangi akan mendarat ke Cairo Airport. Aku begitu terlena dengan keindahan Mesir dan sungai Nil dari udara, tiba – tiba terdengar suara tepat di sampingku.
“Ukhtii, ingat sebelum menginjakkan kaki di tanah para nabi, usahakan mulai dengan kaki kanan, seraya berniat “kedatanganku di Mesir, semata – mata untuk menuntut ilmu.”
Aku berbalik ke arahnya, sambil tersenyum. “Ukhti, namanya siapa? Dan berasal dari mana?”
“Perkenalkan namaku Maryam, dari pesantren DDI Mangkoso.”
Salah satu pondok Pesantren yang banyak mencetak kader santri lulusan Mesir adalah Pondok Pesantren DDI Mangkoso. Pondok Pesantren Mangkoso didirikan oleh sosok ulama AG.KH.Ambo Dalle, beliau termasuk salah satu santri dari AG.KH.M.As’ad pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren As’adiyah. Perkenalan pertamaku dengan Maryam merupakan awal mula persahabatku dengannya.
Dan Alhamdulillah, akhirnya aku tiba di tanah kelahiran nabi Musa as. Siapa sih yang nggak kenal dengan Mesir? Negara yang memiliki sejuta keindahan dengan arsitektur bangunan khas Timur Tengah. Takkan habis kata – kata untuk menuliskan sejarah tentang Mesir, tidak pula habis tinta untuk melukiskan keindahan negeri yang biasa juga disebut The Thousand Minarets Country (negeri 1000 menara). Bahkan ada yang mengatakan bahwa setiap jengkal dari tanah Mesir memiliki cerita dan nilai sejarah.
Pukul 15.00 waktu Cairo, pesawat yang kutumpangi mulai mendarat di Bandara Internasional Cairo. Aku dan Maryam bergegas membereskan semua barang bawaan kami. Yah inilah pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Negeri orang. Perasaan bahagia bercampur senang menyelimuti diriku, menghapus rasa letih yang sedari tadi menggorogoti sekujur tubuhku. 18 jam perjalanan, sungguh melelahkan. Namun semua itu sirna oleh perasaan bahagia.
“Ningrum, yah?” tiba – tiba aku dikagetkan oleh sebuah suara.
Seorang pemuda separuh baya telah berdiri di hadapan kami sambil melemparakan senyumannya.
“Oh iya afwan, nama saya Ilyas, saya diutus oleh ketua KKS (Kerukunan Keluarga Sulawesi) untuk menjemput adik – adik mahasiswa baru yang berasal dari Sulawesi.” Ujar pemuda itu sambil membantu memindahkan barang bawaan kami ke mobil.
Dalam perjalanan menuju ke sekretariat KKS, aku tak henti – hentinya dibuat takjub oleh pemandangan kota Cairo, meski hamparan padang pasir masih terlihat dimana – mana, tapi itu tak mengurangi keindahan negeri para Nabi ini. Justru dengan padang pasir itulah yang menjadikan Cairo memiliki nuansa dengan khas Timur Tengah. Sepanjang jalan kami berbincang – bincang.
“Kak, gimana sih Mesir itu?” tanyaku penasaran.
Beliaupun begitu semangat menjelaskan keindahan Mesir dan sesekali diselipi dengan candaan. Tapi inti dari penjelasannya adalah bahwa teman – teman Masisir (Mahasiswa Indo di Mesir) yang menuntut ilmu di Mesir harus sabar dan tekun. Melihat kata mishr itu ada 3 huruf : mim : musibah, shad : Shabru (sabar), dan Ra : Ridhallah (ridha Allah). Jadi di Mesir katanya begitu banyak cobaan yang harus dilalui dan itu dinamakan musibah maka hendaklah kita senantiasa bersabar dan setelah sukses bersabar maka, Insya Allah, Allah akan ridho, itulah Mesir. Di negeri inilah nabi Yusuf as, dan Musa as dilahirkan. Dan tibalah kami di asrama yang memang khusus putri.
Hari pertama di Mesir masih saja menyisihkan kerinduan pada kampung halaman, juga pada simbok dan ibundaku. Inilah seni kehidupan yang mana kita dihadapkan oleh dua pilihan, baik dan buruk, suka dan duka, begitupun pertemuan dan perpisahan yang begitu memberi kesan yang dalam bagi siapapun yang merasakannya. Aku pernah membaca sebuah buku, di buku itu tertulis bahwa “Engkau akan mengenal seseorang ketika pertemuan itu datang menyapa, dan engkau akan merasa seseorang itu berarti dalam hidupmu ketika perpisahan datang menghampirimu, namun semuanya akan indah pada waktunya.” Meski demikian, lagi – lagi Allah menghadirkan sosok jelmaan malaikat yang begitu santun dalam berbicara dan memiliki budi pekerti yang mulia, yah dialah Maryam.
****
Hari kedua di Cairo menjelang magrib, aku dan Maryam diajak untuk menjelajahi santaero Cairo dan sasaran utama adalah Masjid Al Azhar tempat lahirnya ulama – ulama dunia. Adzan dikumandangkan penuh cinta, suaranya yang mendayu menyamai keindahan suara yang dimiliki oleh sosok lelaki yang begitu kukagumi ‘Marwan’. Entah mengapa nama itu belum mampu hilang dari memori otakku.
Ku angkat takbir mengikuti imam, aku menyimak bacaan Syekh dengan sangat khusyu karena pertama kalinya shalat di belakang ulama Azhar. Masya Allah, ketenangan mengalir keseluruh lativah – lativah jasadku dan tak dapat kutahan air mata ini, mengingat dosa – dosaku yang bertumpuk dibandingkan dengan kesucian hati seorang Syekh yang mengimami kami. Setelah selesai kamipun keluar menuju Masjid Sayyidina Husain (cucu Rasulullah saw) yang hanya diantarai oleh jalan raya dengan masjid Al Azhar. Di dalamnya terdapat kuburan Sayyidina Husain ra, dan begitu banyak yang berziarah ke makam beliau.
Memang pemandangan dengan arsitek khas Timur Tengah yang disuguhkan oleh kemegahan bangunan Masjid Husain akan membuat mata terkesima, belum lagi dengan barisan lampu – lampu kristal yang bergantungan menghiasi bagian dalam masjid Husain, menambah kemegahan masjid ini.
****
Universitas Al – Azhar merupakan salah satu kiblat ilmu bagi para pecandu ilmu, jadi tidak heran jika jumlah mahasiswanya mencapai ribuan. Untuk mahasiswa yang dari Indonesia saja mencapai 4000an, belum lagi dari negara – negara Asia lainnya.
Tapi, meskipun memiliki jumlah mahasiswa/mahasiswi yang mencapai puluhan ribu, namun soal presentase jumlah kehadiran dalam perkuliahan hanya mencapai 30 % dari jumlah mahasiswa/mahasiswinya. Pihak Al – Azhar sendiri tidak membebankan sistem wajib hadir atau melakukan absensi dalam kelas, itu karena melihat kapasitas ruangan perkuliahan yang tidak mencukupi. Untuk semester awal saja, ruangan kuliah yang diperkirakan berkapasitas kurang lebih 300 orang, tidak akan mampu menampung seluruh mahasiswa/mahasiswi semester satu yang jumlahnya kurang lebih 1000-an. Meski demikian, Al – Azhar tetap menjadi pilihan nomer satu sebagai pusat untuk menggali ilmu dan pengetahuan – pengetahuan agama, itu terbukti bahwa al Azhar mampu menjadi pencetak ulama – ulama besar di dunia yang disegani. Walaupun sistem yang dianut terbilang manual, dan dengan sistem pembelajaran yang menggunakan metode syarh kaamil (penjelasan secara detail) dari dosen, dan nggak ada sistem penugasan dalam bentuk makalah layaknya sistem perkuliahan yang ada di Indonesia.
****
Pagi menyapa, hawa dinginnya mulai menusuk sampai ke pori – pori tubuh, aku dan sebagian teman dari Indonesia menyempatkan diri jalan – jalan ke area sekitar Al Azhar dan asrama putra Al Azhar. Sepanjang jalan mulai ramai oleh kendaraan roda empat. Di Mesir sangat jarang menemukan kendaraan beroda dua, kalaupun ada, hanya didominani motor vesva. Terlihat dari kejahuan, berdiri kokoh gedung Daar El – Iftaa dan gedung Masyekho (gedung yang menjadi tempat ngumpalnya Syaekh – Syaekh Al Azhar dan gedung Mufti Mesir). Memang kota El – Darrasah (lokasi kampus putra Al Azhar dan Masjid Al Azhar) akan terlihat memukau indah jika dipandang dari kejauhan, itu disebabkan karena di sebelah timur Al Azhar terhampar bukit Al Azhar Park yang elok nan indah.
Al Azhar Park (Taman Al Azhar) merupakan salah satu tempat wisata indah yang terletak di sebelah timur Universitas Al Azhar. Suguhan bukit – bukit, aneka warna – warni bunga, pohon – pohon yang menghijau dan sebuah danau menambah panorama keindahan Al Azhar Park. Dari puncak Al Azhar Park jugalah kita bisa menikmati pemandangan sunset dan menyaksikan hamparan bangunan – bangunan kuno Mesir dan juga gedung – gedung dengan tema modern (old Cairo dam New Cairo). Dan tak kalah menariknya adalah Pasar Khan Khalili. Pasar ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang mempunyai nuansa tradisional Mesir, pasar ini menjadi tujuan para wisatawan asing untuk berbelanja souvenir – souvenir dan barang – barang antik khas Mesir. Barisan cafe – cafe yang menghiasi area pekarangan Masjid Husain, tentunya menjadi nilai tambah tersendiri bagi pasar ini. Tempat ini menjadi lokasi para turis asing untuk bercengkrama sambil menikmati seduhan hangat ala Timur Tengah.
Jam menunjukkan pukul 17.00 waktu Cairo. Itu artinya sebentar lagi matahari akan meninggalkan langit sore.
“Ke Azhar Park yuk..!” ajakku kepada teman – temanku.
“Rum, emangnya kamu nggak cape’apa, setelah berkeliling pasar Attabah dan Khan Khalili?” tanya salah seorang temanku, yang sepertinya sudah tidak kuat lagi melanjutkan penjela           jahan ini.
“Ah, payah, baru segitu aja udah cape’gimana kalau mendaki gunung Sinai?” Ujarku dengan sedikit nada yang mengejek.
Waktu semakin beranjak, warna kuning keemasan mulai menghiasi langit kota Cairo. Angin bertiup kencang, hawa dinginnya mulai menusuk sampai ke pori – pori tubuhku. Kami pun mempercepat langkah, takut kehilangan momen untuk menikmati keindahan sunset kota Cairo.
Ayizz khamsah tadzaakir! (minta lima karcis).”
Kullu khamsah wa ‘ishriin geneh (semuanya 25 geneh) Jawab penjaga loket, sambil menyerahkan lima lembar karcis kepadaku.
Subhanallah, keindahan Azhar Park memang tak terbantahkan, aliran sungai – sungai buatan, air mancurnya, hamparan danaunya, pohon – pohon yang menghijau rindang, bunga – bunga yang bermekaran menjadikan taman ini sebagai tujuan pertama jika ingin menikmati sejuknya pemandangan alam. Belum lagi dengan suguhan sunsetnya yang begitu memukau.
“Yuk, ke puncak taman! Sunsetnya sudah mulai merekahkan senyumnya, kita nggak boleh ketinggalan untuk menikmatinya.” Kataku kepada teman – temanku sambil melangkah ke arah puncak Azhar Park.
Puncak Azhar Park memang telah didesain khusus dengan sebuah tembok yang berbentuk lingkaran. Dari puncak itulah kita bisa melihat kemegahan benteng Salahuddin yang masih berdiri kokoh, dan juga bisa menikmati pemandangan sunset serta melihat hamparan bangunan – bangunan kota kuno dan kota modern Mesir (Old Cairo dan New Cairo).
Senja perlahan beranjak pergi, dan malam mulai menyelimuti. Taman Al Azhar mulai terhiasi oleh cahaya bola – bola lampu, dan ternyata, pemandangan Azhar Park di malam hari tak kalah indahnya “Subhanallah, alangkah indahnya ciptaanMu ya Allah” gumamku dalam hati. Sayup – sayup suara adzan magrib mulai berkumandang. Kami pun memutuskan untuk menyudahi petualangan ini.
****
            Inilah sepenggal kisahku di negeri para nabi. Memupuk rindu dengan kampung halaman. Merajut asa impian Ibu dan simbokku. Dan merawat mimpiku mencapai gelar LC.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Festival Kebudayaan Jepang




Kebudayaan Jepang di Indoensia sangat kental dan mudah diterima oleh anak-anak muda maupun usia lanjut. Why? Karena mereka bersudut pandang pada hal-hal berbau nuansa asing.

Terlebih Jepang dengan segala pesona kebudayannya. Termasuk gue, Ari, dan Kakung yang sama-sama pecinta Jepang, khususnya pada anime dan manga. Sejujurnya gue hanya ikut-ikutan aja.

Ri, gue tunggu di depan fakultas ilmu budaya ya.”

“Iye, tujuh menit lagi gue sampe.” Lalu telpon dimatikan.

Mata Kakung memandang gue dengan tanda tanya besar. “Lama banget sih, kita udah janjian dari jam berapa? Kalau di Jepang orang kaya Ari udah pasti dipecat!”

“Entahlah, mungkin dia punya alasan yang kuat.”

Orang-orang berpakaian Jepang berlalu-lalang di wilayah fakultas ini, berbagai arsitektur Jepang melekat pada dinding-dinding gedung, dan dilengkapi pula dengan ornamen berwarna-warni. Teriknya cuaca kota Depok menambah nuansa Jepang semakin terasaa. Seketika beberapa kubik kota Depok berubah menjadi kampung Jepang yang mungil. Ini surga bagi penikmatnya.

“Sori gue telat, ada urusan yang ngedadak.” Ari datang dari arah Barat, kalau benar ia berangkat dari rumah, seharusnya dia datang dari arah Timur. Gue yakin dia tidak berangkat dari rumahnya.

“Nggak biasanya elo telat, Ri. Emangnya jarak dari rumah elo ke sini seberapa jauh sih?” Tanya Kakung.
“Kalau dari rumah sekitar setengah jam jalan kaki.” Ari mengencangkan ranselnya yang berisi penuh, entah  barang apa di dalamnya. “Oka, lo jelasin deh sama Kakung.”

“Udahlah, nggak usah masalahin itu, ayo masuk acaranya udah mulai dari tadi.”
Dugaan gue benar, suaasana Jepang amat kental dan semarak saat masuk ke dalam gate dan auditoriumnya. Sesak dan padat tidak mengurangi antusias para penggila Jepang.

“Otaku[1] di sini panatik semua yah,” Cetus Kakung sambil memperhatikan pameran cosplay[2] di hall yang berbetuk bundar.

“Gue nggak sefanatik itu.” Sanggah Ari.

“Kalau nggak panatik, kenapa dateng ke sini dan elo koleksi komiknya?” Tanya Kakung dengan nada yang sedikit kesal.

“Fanatik dan hobi berbeda, fanatik itu over loud sementara hobi itu wajar.” Ari membetulkan posisi kaca matanya.

“Mulai deh debat lagi. Stop.. Stop, mendingan kita liat-liat merchendise yang dijual di sana yuk!” Ajak gue untuk meredam suasana sambil menunjuk beberapa toko action figure dan aksesoris.

“Oke,” Kakung mengacungkan jempolnya. Ari hanya menganggut.

“Ri, lo jalan di depna, di sini sesek banget susah lewat kalau gue di depan.” Gue mengisyaratkan Ari untuk maju.

“Sama aja, nggak harus gue, kan?”

“Ayolah,” Gue sedikit memohon, Ari memang seperti itu. Harus penuh dengan rasa hormat dan membutuhkanuntuk meminta bantuannya.

Ari berjalan ke depan tanpa mengatakan apapun, dia memandang sekitar sebelum mengambil langkah maju. Bukannya berjalan ke depan tapi dia malah berjalan ke arah koridor kiri.

“Ri, kita mau ke toko action figure?” Tanya gue mesatikan.
Ari menunjuk beberapa orang cosplay di seberang kami berjalan menuju hall tengah. “Liat di sana ada gerombolan orang cosplay, kan? Kalau kita ambil jalan tengah, otomatis nggak akan bisa lewat. Orang-orang pasti banyak yang minta foto bareng.”

Seketika gue dan Kakung hanya bisa memanggut-manggutkan kepala tanpa mengeluarkan argumen. Sudah maklumbagi teman-teman Ari jika dia pintar sekali memilih hal yang lebih kreatif dan out of the box. Ternyata memang benar, memilih jalan memutar lebih aman dan tidak terbawa arus orang-orang yang ingin foto bersama di hall.

“Tuh, action fiigure-nya, gue ijin ke toilet dulu yah,” Lalu Ari pergi tanpa menunggu jawaban gue dan Kakung, untuk orang yang mengenalnya pasti mengira dia tidak sopan, tapi bagi kami itulah dia.

Obrolan antara gue dan Kakung juga hanya hal yang singkat dan penting saja, mengingat suasana ramai di sini sulit untuk berkomununikasi. Misalnya jika ada hal yang bagus, Kakung hanya mengisyaratkan dengan tangannya sambil mecolek gue. Jujur, gue nggak menyangka festival ini akan dihadiri orang sebanyak ini. Meskipun didominasi oleh remaja tapi orang yang sudah lanjut pun ada. Mungkin, semasa mudanya mereka sangat mengidolakan Jepang tapi belum tersalurkan pada jamannya.

“Ka, si Ari ke mana sih? Nggak dateng-dateng dari tadi?”

“Nggak tau, kita ke toilet aja deh.”

Setelah bersusah payah melewati lautan manusia, akhirnya gue dan kakung bisa keluar. Dan mata gue tertuju pada satu orang, di tengah hall. Orang-orang heboh melihatnya dan bergantian mengambil foto darinya. Ari!

Ari ikutan cosplay dengan kostum heboh yang entah karakter dari anime apa.

Dia memang manusia ynag tidak bisa ditebak pikirannya. Kakung pun ikut terkesima melihat Ari yang berkostum lengkap dengan jubah hitam panjang dan garis-garis putih sambil memegang pedang dengan detil sempurna membuat orang-orang melihatnya terheran-heran dan pasti akan menanyakan., “Berapa lama mepersiapka ini?” atau “Berapa total biaya yang dihabiskan?” dan pertanyaan itu juga ada di otakku.
“Ka, si Ari cosplay jadi Kirito di anime Sword Art Online! Gila itu keren banget!”
“Iya? Gue nggak tau anime itu, tapi yang jelas kostum sama pedangnya nggak murah.”
Dengan cepat gue dan Kakung menuju ke hall melewati beberapa kerumunan orang yang ingin bergantian foto bersama.
“Ri, gila lo keren banget!” Cetus gue. “Kenapa enggak bilang-bilang.”
“Emangnya kalau mau cosplay harus bilang?” Ari tersenyum tipis.
“Abis berapa lo?” Tanya Kakung.
Pertanyaan Kakung belum sempat diujawab beberapa orang langsung mengajaknya foto bersama. Setelah selesai Ari berbalik lagi, “Nggak sama sekali. Pedang ini gue bikin sendiri, dari potongan kayu terus gue cat. Jubahnya juga Cuma sambungan jas hitam yang gue ganti kancingn jadi putih.”
Level otak kreatifnya jauh melampaui orang kebanyakan.
“Lo kreatif abis!” Gue memukul pundaknya.
“Hobi nggak harus menghabiskan uang, fanatik rata-rata menghabiskan uang!” Eksperesi Ari dingin.
 Orang dengan tingkat pemikiran yang kereatif akan memanfaatkan hal-hal yang tidak biasa, yah seperti yang gue bilang tadi, Ari orang yang out of the box. Selalu bisa mengambil hal-hal yang orang lain tidak pedulikan menjadi hal yang menarik. Karakter yang jarang sekali dimiliki oleh oarng banyak.


Cerpen ini diikutkan pada Tantangan #KarakterINTJ yang diadakan @KampusFiksi.


[1] Istilah dalam bahasa Jepang untuk orang yang betul-betul menekuni hobi, khususnya manga dan anime.
[2] Diambil dari kata costume player yang artinya hobi mengenakan kostum dan aksesoris dari karakter anime.