Loving books, white and navy blue. Love Doraemon �� very much. Born at 27 of March 95". Dislike something too sweet, debeat, and haters.
Selasa, 02 September 2014
The Thousand Of Minarets Country (MESIR)
Selasa, 19 Agustus 2014
Obrolan Warung Kopi: Part 2
Situasi warung kopi dibilangan Kalideres tidak terlalu ramai hari itu. Hanya suara klakson mobil, motor, dan deruan pesawat terbang yang lalu lalang tiap beberapa menit sekali.
Panas matahari seakan seirama dengan panas situasi yang ada di kontrakan petak di sini.
"Kopi satu." Seorang Bapak berkumis duduk di bangku kayu sebrlah kiri.
"Kopi item apa susu, Mas?" Ibu-ibu pemilik warung siap meracik pesanan.
"Item."
Di ujung kanan ada seseorang pemudi berkopiah sedang membaca buku islami yang tidak jelas terbaca judul bukunya karena dilipat. Hanya sepintas terlihat ada beberapa potongan ayat pada halaman-halamannya.
"Buku apa, Dek?" Tanya Bapak berkumis tadi sambil melirik ke arah buku pemuda itu.
"Metodologi Islam, Pak. Bapak Suka baca juga?"
"Iya tapi bukan buku Islami. Buku-buku relistis dan relavan saja," Bapak berkumis itu memutar bola matanya ke arah jalan raya yang mulai lengang.
"Maaf, maksud Bapak?"
"Buku-buku yang bisa diterima akal sehat saja."
"Agama memang ilmu yang tidak hisa diterima akal sehat Pak. Tapi, dia realistis dan relavan."
"Kata siapa? Kata manusia, kan?" Pandangan Bapak tadi menyorot Pemuda itu dengan tajam.
"Allah Esa san dia maha kuasa, kita tidak usah memikirkan Sang Pencipta tapi pikirkan apa yang Ia ciptakan untuk kita."
"Sekarang sya tanya yah, Dek. Tuhan itu apa? Apakah molekul? Dzat? Partikel?"
Pesawat berwarna putih bergaris hijau muda melintas.
"Pak, apa Bapak percaya di dalam pesawat itu ada yang mengemudi?"
"Ya, jelas." Bapak itu menaikan nada suaranya.
"Begitu juga dengan Allah, Pak. Kita tidak perlu lihat bentuk dan rupanya. Yang kita perlukan hanya yakin. Iman," Anak muda tadi melrtakan kopiahnya tanda sedang menahan sesuatu yang meluap dari kepalanya. Emosi.
"Tapi itu kan kata manusia? Manusia yang berkata ini-itu. Tandanya kita hanya mengikuti manusia? Lalu bagaimana dengan yang dikatakan tentang Sang pencipta?"
Pemuda tadu menarik nafas. " Pak, apa Bapak pernah melihat pikiran Bapak? Apa Bapak pernah melihat akal dan IQ Bapak? Padahal itu terukur, kan?"
Bapak tadi diam, Kopi hitam pesanannya datang dengan asap yang masih mengepul. Lalu, Bapak itu menyeruput kopi hitamnya.
"Ini soal rasa," Kopinya diletakan di meja lalu Bapak itu kembali melirik ke arah Pemuda tadi. "Rasa simpati yang dibuat manusia terhadap manusia itu sendiri menjadikan mereka percaya apa yang dikatakan oleh manusia itu."
Pemuda itu langsung memotong. "Pak, Nabi itu terlihat seperti manusia tapi nyatanya tidak seprtti manusia." Pemuda tadi bangkit dari posisi duduknya. "Lebih baik Bapak bersyahadat lagi Pak. Sebelum nyawa diujung tenggorokan nanti."
"Saya belum selesai."
"Selesaikan dulu kepahaman Bapak, baru saya dengarkan. Kalau salah paham mungkin masih bisa diperbaiki tapi kalau pahamnya salah sudah tidak bisa ditolerir."
"Loh ini hak asasi manusia, kan? Kebebasan saya bersuara?"
"Hak asasi manusia juga buatan manusia, Pak. Pemikiran manusia yang belum bisa jadi patokan akhirat."
Semoga menginpirasi.
Selasa, 05 Agustus 2014
Obrolan warung kopi: Part 1
BRUK!
Bimo memukul pelan bangku warung kopi yang betcat biru muda setelah menonton berita di teve.
"Saya nggak ngerti apa yang jadi pedoman negri ini, yang ini salah, yang itu salah. Yang jendral salah, yang arsitek salah, kiai juga disalahin!" Bimo mengoceh sendiri di warung kopi yang tidak begitu ramai.
"Ngomong opo toh Nak? kamu iki ndak usah mikirin politik, cukup mikirin perut keluarga sajah," Ayahnya menimpali sambil menyeruput kopi hitam kental kesukaannya.
"BBM naik, bumbu dapur naik, tapi gaji nggak naik-naik. Ini namanya membunuh rakyat pelan-pelan!" Bimo hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda tak setuju. Sang pengunjung berseragam PNS tiba-tiba duduk di antara Bimo dan Ayahnya.
"Mas.. Pak.. Kita kan rakyat, dan negri ini mengambil paham dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat, jadi aspirasi kita harus.."
Bimo memotong. "Jadi bapak PNS mau ngomong apa? To the point aja jangan kayak tersangka korupsi yang berbelit-belit ngomongnya."
"Iya ngomongmu mbok jangan tinggi-tinggi aku yang sudah tua ini susah ngertinya."
Sang PNS menarik nafas sejenak. "Iya, kita adalah orang-orang yang menentukan nasib bangsa ini. Jadi kita harus ambil bagian dan menyumbang ide untuk bangsa ini, bukan cuma protes dan kritik saja."
"Sama saja Pak, mereka cuma makan gaji buta. Kerjaanya bikin undangan aja."
"Undang-undang, nak," Koreksi sang Ayah.
"Apalah arti kita ada kalau kita cuma diem?" Tanya Sang PNS.
"Saya nggak diam Pak, saya kritik mereka! Biar lebih benar, lebih tegas!" Jelas Bimo. "Lagi pula bapak juga cuma bisa make uang rakyat untuk dines-dines nggak jelas, kan?"
Sang PNS diam, berusaha tidak terpancing dengan suasana. Sekeliling mereka ada beberapa pasang mata yang mendengar tapi bisu tanpa kata. Hanya bisa menyadap suara perdebatan mereka tanpa peduli. "Orang tidak tau apa yang ada dalam suatu rumah kalau cuma liat dari depannya aja, coba kamu sekali aja masuk. Nanti, kamu liat mana orang yang kamu bilang tadi dan mana orang yang selama ini kerja keras."
"Terus kalau saya mau kritik misalnya..."
PNS itu memotong. "Kalau mengkritik harus dengan cara kreatif agak dilirik, dengan cara berbeda. Bukan hanya teriak-teriak di warkopi."
"Jadi harus gimana?"
"Kita harus membuat hal yang berbeda. Misal, membuat komik yang menyindir, game, atau aksi kreatif yang mengkritik dengan cerdas agar bisa diterima masyarakat."
"Saya kan ndak bisa main internet, Nak," Ayah Bimo menggaruk-garuk rambut putihnya.
"Kalau gitu harus dibarengi dengan gerakan brantas buta internet, ini kan jaman modern, Yah."
"Kamu ini anak kurang ajar, Ayahmu ini dibilang buta!" Protes sang ayah.
"Bukan Pak, maksudnya belajar intetnet. Nanti kita sama-sama belajar internet. Biar bisa, mau?" Jelas PNS itu.
"Wah mau bangetlah aku," Semangat Ayah Bimo dengan tatapan berbinar.
"Emang bisa ya, Pak?" Tanya Bimo.
"Semua bisa, asal bersama." Sang PNS tersenyum sambil mengeluaekan beberapa lembar rupiah untuk membayar bala-bala yang tadi ia makan.
Jika hanya mengkritik di warung kopi, tidak ada yang mendengar kecuali kalangan mereka. Kalau mereka hanya mengeluarkan aspirasi dengan teknologi canggih bagaimana nasib para kaum senja? Apa mereka tidak boleh tahu rencana mereka sang wakil penduduk apa?
Semoga menginspirasi.