Tampilkan postingan dengan label cerpen mendidik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen mendidik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2014

The Thousand Of Minarets Country (MESIR)



(by Rizki Ayu Amaliah)
Langit cerah dan isak tangis keluargaku menjadi saksi keberangkatanku untuk menuntut ilmu di negeri 1000 menara. Kucium dan kupeluk erat mbah putri dan ibuku. Kupeluk sosok yang mulai tua renta dimakan usia, sambil kuusap butiran air mata yang membasahi pipinya.
“Mbok, ojo nangis yo ! Ningrum, tidak ingin melihat isak tangis yang terpancar dari wajah simbok, tapi mengharapkan uluran doa, agar Ningrum selamat sampai tujuan.”
Dan akhirnya, tatapan terakhir kutujukan pada ibundaku tercinta yang berlinangan air mata. Begitu sulit beliau melepaskanku.
“Nak, ibu belum sanggup berpisah denganmu, dengan jarak yang begitu jauh.”
“Bu, inilah impianku, meski ku sadari akan banyak rindu yang tumpah tiap malamnya, akan ada banyak rasa cemas yang menyelimuti, dan semakin banyak air mata yang akan tumpah karena perpisahan ini, namun inilah impian dan cita – cita yang harus mengorbankan segalanya.” Ujarku sambil menahan tangis.
“Lalu, siapa yang akan menemanimu ketika sendiri, nak? Siapa yang akan menjagamu ketika sakit?”
“Bu, ikhlaskalah kepergianku untuk merantau ke negeri orang.”
“Bismillah, Insya Allah, Nak.”
Pilu rasanya melihat genangan air mata di pelupuk mata mereka, dan dengan bibir yang terasa berat, kuucapkan “Assalamu ‘Alaikum” kepada mbah putri dan ibuku dan berbalik menuju pintu bandara.
Pesawat Kuwat airlines yang kutumpangi akan mendarat ke Cairo Airport. Aku begitu terlena dengan keindahan Mesir dan sungai Nil dari udara, tiba – tiba terdengar suara tepat di sampingku.
“Ukhtii, ingat sebelum menginjakkan kaki di tanah para nabi, usahakan mulai dengan kaki kanan, seraya berniat “kedatanganku di Mesir, semata – mata untuk menuntut ilmu.”
Aku berbalik ke arahnya, sambil tersenyum. “Ukhti, namanya siapa? Dan berasal dari mana?”
“Perkenalkan namaku Maryam, dari pesantren DDI Mangkoso.”
Salah satu pondok Pesantren yang banyak mencetak kader santri lulusan Mesir adalah Pondok Pesantren DDI Mangkoso. Pondok Pesantren Mangkoso didirikan oleh sosok ulama AG.KH.Ambo Dalle, beliau termasuk salah satu santri dari AG.KH.M.As’ad pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren As’adiyah. Perkenalan pertamaku dengan Maryam merupakan awal mula persahabatku dengannya.
Dan Alhamdulillah, akhirnya aku tiba di tanah kelahiran nabi Musa as. Siapa sih yang nggak kenal dengan Mesir? Negara yang memiliki sejuta keindahan dengan arsitektur bangunan khas Timur Tengah. Takkan habis kata – kata untuk menuliskan sejarah tentang Mesir, tidak pula habis tinta untuk melukiskan keindahan negeri yang biasa juga disebut The Thousand Minarets Country (negeri 1000 menara). Bahkan ada yang mengatakan bahwa setiap jengkal dari tanah Mesir memiliki cerita dan nilai sejarah.
Pukul 15.00 waktu Cairo, pesawat yang kutumpangi mulai mendarat di Bandara Internasional Cairo. Aku dan Maryam bergegas membereskan semua barang bawaan kami. Yah inilah pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Negeri orang. Perasaan bahagia bercampur senang menyelimuti diriku, menghapus rasa letih yang sedari tadi menggorogoti sekujur tubuhku. 18 jam perjalanan, sungguh melelahkan. Namun semua itu sirna oleh perasaan bahagia.
“Ningrum, yah?” tiba – tiba aku dikagetkan oleh sebuah suara.
Seorang pemuda separuh baya telah berdiri di hadapan kami sambil melemparakan senyumannya.
“Oh iya afwan, nama saya Ilyas, saya diutus oleh ketua KKS (Kerukunan Keluarga Sulawesi) untuk menjemput adik – adik mahasiswa baru yang berasal dari Sulawesi.” Ujar pemuda itu sambil membantu memindahkan barang bawaan kami ke mobil.
Dalam perjalanan menuju ke sekretariat KKS, aku tak henti – hentinya dibuat takjub oleh pemandangan kota Cairo, meski hamparan padang pasir masih terlihat dimana – mana, tapi itu tak mengurangi keindahan negeri para Nabi ini. Justru dengan padang pasir itulah yang menjadikan Cairo memiliki nuansa dengan khas Timur Tengah. Sepanjang jalan kami berbincang – bincang.
“Kak, gimana sih Mesir itu?” tanyaku penasaran.
Beliaupun begitu semangat menjelaskan keindahan Mesir dan sesekali diselipi dengan candaan. Tapi inti dari penjelasannya adalah bahwa teman – teman Masisir (Mahasiswa Indo di Mesir) yang menuntut ilmu di Mesir harus sabar dan tekun. Melihat kata mishr itu ada 3 huruf : mim : musibah, shad : Shabru (sabar), dan Ra : Ridhallah (ridha Allah). Jadi di Mesir katanya begitu banyak cobaan yang harus dilalui dan itu dinamakan musibah maka hendaklah kita senantiasa bersabar dan setelah sukses bersabar maka, Insya Allah, Allah akan ridho, itulah Mesir. Di negeri inilah nabi Yusuf as, dan Musa as dilahirkan. Dan tibalah kami di asrama yang memang khusus putri.
Hari pertama di Mesir masih saja menyisihkan kerinduan pada kampung halaman, juga pada simbok dan ibundaku. Inilah seni kehidupan yang mana kita dihadapkan oleh dua pilihan, baik dan buruk, suka dan duka, begitupun pertemuan dan perpisahan yang begitu memberi kesan yang dalam bagi siapapun yang merasakannya. Aku pernah membaca sebuah buku, di buku itu tertulis bahwa “Engkau akan mengenal seseorang ketika pertemuan itu datang menyapa, dan engkau akan merasa seseorang itu berarti dalam hidupmu ketika perpisahan datang menghampirimu, namun semuanya akan indah pada waktunya.” Meski demikian, lagi – lagi Allah menghadirkan sosok jelmaan malaikat yang begitu santun dalam berbicara dan memiliki budi pekerti yang mulia, yah dialah Maryam.
****
Hari kedua di Cairo menjelang magrib, aku dan Maryam diajak untuk menjelajahi santaero Cairo dan sasaran utama adalah Masjid Al Azhar tempat lahirnya ulama – ulama dunia. Adzan dikumandangkan penuh cinta, suaranya yang mendayu menyamai keindahan suara yang dimiliki oleh sosok lelaki yang begitu kukagumi ‘Marwan’. Entah mengapa nama itu belum mampu hilang dari memori otakku.
Ku angkat takbir mengikuti imam, aku menyimak bacaan Syekh dengan sangat khusyu karena pertama kalinya shalat di belakang ulama Azhar. Masya Allah, ketenangan mengalir keseluruh lativah – lativah jasadku dan tak dapat kutahan air mata ini, mengingat dosa – dosaku yang bertumpuk dibandingkan dengan kesucian hati seorang Syekh yang mengimami kami. Setelah selesai kamipun keluar menuju Masjid Sayyidina Husain (cucu Rasulullah saw) yang hanya diantarai oleh jalan raya dengan masjid Al Azhar. Di dalamnya terdapat kuburan Sayyidina Husain ra, dan begitu banyak yang berziarah ke makam beliau.
Memang pemandangan dengan arsitek khas Timur Tengah yang disuguhkan oleh kemegahan bangunan Masjid Husain akan membuat mata terkesima, belum lagi dengan barisan lampu – lampu kristal yang bergantungan menghiasi bagian dalam masjid Husain, menambah kemegahan masjid ini.
****
Universitas Al – Azhar merupakan salah satu kiblat ilmu bagi para pecandu ilmu, jadi tidak heran jika jumlah mahasiswanya mencapai ribuan. Untuk mahasiswa yang dari Indonesia saja mencapai 4000an, belum lagi dari negara – negara Asia lainnya.
Tapi, meskipun memiliki jumlah mahasiswa/mahasiswi yang mencapai puluhan ribu, namun soal presentase jumlah kehadiran dalam perkuliahan hanya mencapai 30 % dari jumlah mahasiswa/mahasiswinya. Pihak Al – Azhar sendiri tidak membebankan sistem wajib hadir atau melakukan absensi dalam kelas, itu karena melihat kapasitas ruangan perkuliahan yang tidak mencukupi. Untuk semester awal saja, ruangan kuliah yang diperkirakan berkapasitas kurang lebih 300 orang, tidak akan mampu menampung seluruh mahasiswa/mahasiswi semester satu yang jumlahnya kurang lebih 1000-an. Meski demikian, Al – Azhar tetap menjadi pilihan nomer satu sebagai pusat untuk menggali ilmu dan pengetahuan – pengetahuan agama, itu terbukti bahwa al Azhar mampu menjadi pencetak ulama – ulama besar di dunia yang disegani. Walaupun sistem yang dianut terbilang manual, dan dengan sistem pembelajaran yang menggunakan metode syarh kaamil (penjelasan secara detail) dari dosen, dan nggak ada sistem penugasan dalam bentuk makalah layaknya sistem perkuliahan yang ada di Indonesia.
****
Pagi menyapa, hawa dinginnya mulai menusuk sampai ke pori – pori tubuh, aku dan sebagian teman dari Indonesia menyempatkan diri jalan – jalan ke area sekitar Al Azhar dan asrama putra Al Azhar. Sepanjang jalan mulai ramai oleh kendaraan roda empat. Di Mesir sangat jarang menemukan kendaraan beroda dua, kalaupun ada, hanya didominani motor vesva. Terlihat dari kejahuan, berdiri kokoh gedung Daar El – Iftaa dan gedung Masyekho (gedung yang menjadi tempat ngumpalnya Syaekh – Syaekh Al Azhar dan gedung Mufti Mesir). Memang kota El – Darrasah (lokasi kampus putra Al Azhar dan Masjid Al Azhar) akan terlihat memukau indah jika dipandang dari kejauhan, itu disebabkan karena di sebelah timur Al Azhar terhampar bukit Al Azhar Park yang elok nan indah.
Al Azhar Park (Taman Al Azhar) merupakan salah satu tempat wisata indah yang terletak di sebelah timur Universitas Al Azhar. Suguhan bukit – bukit, aneka warna – warni bunga, pohon – pohon yang menghijau dan sebuah danau menambah panorama keindahan Al Azhar Park. Dari puncak Al Azhar Park jugalah kita bisa menikmati pemandangan sunset dan menyaksikan hamparan bangunan – bangunan kuno Mesir dan juga gedung – gedung dengan tema modern (old Cairo dam New Cairo). Dan tak kalah menariknya adalah Pasar Khan Khalili. Pasar ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang mempunyai nuansa tradisional Mesir, pasar ini menjadi tujuan para wisatawan asing untuk berbelanja souvenir – souvenir dan barang – barang antik khas Mesir. Barisan cafe – cafe yang menghiasi area pekarangan Masjid Husain, tentunya menjadi nilai tambah tersendiri bagi pasar ini. Tempat ini menjadi lokasi para turis asing untuk bercengkrama sambil menikmati seduhan hangat ala Timur Tengah.
Jam menunjukkan pukul 17.00 waktu Cairo. Itu artinya sebentar lagi matahari akan meninggalkan langit sore.
“Ke Azhar Park yuk..!” ajakku kepada teman – temanku.
“Rum, emangnya kamu nggak cape’apa, setelah berkeliling pasar Attabah dan Khan Khalili?” tanya salah seorang temanku, yang sepertinya sudah tidak kuat lagi melanjutkan penjela           jahan ini.
“Ah, payah, baru segitu aja udah cape’gimana kalau mendaki gunung Sinai?” Ujarku dengan sedikit nada yang mengejek.
Waktu semakin beranjak, warna kuning keemasan mulai menghiasi langit kota Cairo. Angin bertiup kencang, hawa dinginnya mulai menusuk sampai ke pori – pori tubuhku. Kami pun mempercepat langkah, takut kehilangan momen untuk menikmati keindahan sunset kota Cairo.
Ayizz khamsah tadzaakir! (minta lima karcis).”
Kullu khamsah wa ‘ishriin geneh (semuanya 25 geneh) Jawab penjaga loket, sambil menyerahkan lima lembar karcis kepadaku.
Subhanallah, keindahan Azhar Park memang tak terbantahkan, aliran sungai – sungai buatan, air mancurnya, hamparan danaunya, pohon – pohon yang menghijau rindang, bunga – bunga yang bermekaran menjadikan taman ini sebagai tujuan pertama jika ingin menikmati sejuknya pemandangan alam. Belum lagi dengan suguhan sunsetnya yang begitu memukau.
“Yuk, ke puncak taman! Sunsetnya sudah mulai merekahkan senyumnya, kita nggak boleh ketinggalan untuk menikmatinya.” Kataku kepada teman – temanku sambil melangkah ke arah puncak Azhar Park.
Puncak Azhar Park memang telah didesain khusus dengan sebuah tembok yang berbentuk lingkaran. Dari puncak itulah kita bisa melihat kemegahan benteng Salahuddin yang masih berdiri kokoh, dan juga bisa menikmati pemandangan sunset serta melihat hamparan bangunan – bangunan kota kuno dan kota modern Mesir (Old Cairo dan New Cairo).
Senja perlahan beranjak pergi, dan malam mulai menyelimuti. Taman Al Azhar mulai terhiasi oleh cahaya bola – bola lampu, dan ternyata, pemandangan Azhar Park di malam hari tak kalah indahnya “Subhanallah, alangkah indahnya ciptaanMu ya Allah” gumamku dalam hati. Sayup – sayup suara adzan magrib mulai berkumandang. Kami pun memutuskan untuk menyudahi petualangan ini.
****
            Inilah sepenggal kisahku di negeri para nabi. Memupuk rindu dengan kampung halaman. Merajut asa impian Ibu dan simbokku. Dan merawat mimpiku mencapai gelar LC.

Selasa, 19 Agustus 2014

Obrolan Warung Kopi: Part 2

Situasi warung kopi dibilangan Kalideres tidak terlalu ramai hari itu. Hanya suara klakson mobil, motor, dan deruan pesawat terbang yang lalu lalang tiap beberapa menit sekali.

Panas matahari seakan seirama dengan panas situasi yang ada di kontrakan petak di sini.

"Kopi satu." Seorang Bapak berkumis duduk di bangku kayu sebrlah kiri.

"Kopi item apa susu, Mas?" Ibu-ibu pemilik warung siap meracik pesanan.

"Item."

Di ujung kanan ada seseorang pemudi berkopiah sedang membaca buku islami yang tidak jelas terbaca judul bukunya karena dilipat. Hanya sepintas terlihat ada beberapa potongan ayat pada halaman-halamannya.

"Buku apa, Dek?" Tanya Bapak berkumis tadi sambil melirik ke arah buku pemuda itu.

"Metodologi Islam, Pak. Bapak Suka baca juga?"

"Iya tapi bukan buku Islami. Buku-buku relistis dan relavan saja," Bapak berkumis itu memutar bola matanya ke arah jalan raya yang mulai lengang.

"Maaf, maksud Bapak?"

"Buku-buku yang bisa diterima akal sehat saja."

"Agama memang ilmu yang tidak hisa diterima akal sehat Pak. Tapi, dia realistis dan relavan."

"Kata siapa? Kata manusia, kan?" Pandangan Bapak tadi menyorot Pemuda itu dengan tajam.

"Allah Esa san dia maha kuasa, kita tidak usah memikirkan Sang Pencipta tapi pikirkan apa yang Ia ciptakan untuk kita."

"Sekarang sya tanya yah, Dek. Tuhan itu apa? Apakah molekul? Dzat? Partikel?"

Pesawat berwarna putih bergaris hijau muda melintas.

"Pak, apa Bapak percaya di dalam pesawat itu ada yang mengemudi?"

"Ya, jelas." Bapak itu menaikan nada suaranya.

"Begitu juga dengan Allah, Pak. Kita tidak perlu lihat bentuk dan rupanya. Yang kita perlukan hanya yakin. Iman,"  Anak muda tadi melrtakan kopiahnya tanda sedang menahan sesuatu yang meluap dari kepalanya. Emosi.

"Tapi itu kan kata manusia? Manusia yang berkata ini-itu. Tandanya kita hanya mengikuti manusia? Lalu bagaimana dengan yang dikatakan tentang Sang pencipta?"

Pemuda tadu menarik nafas. " Pak, apa Bapak pernah melihat pikiran Bapak? Apa Bapak pernah melihat akal dan IQ Bapak? Padahal itu terukur, kan?"

Bapak tadi diam, Kopi hitam pesanannya datang dengan asap yang masih mengepul. Lalu, Bapak itu menyeruput kopi hitamnya.

"Ini soal rasa," Kopinya diletakan di meja lalu Bapak itu kembali melirik ke arah Pemuda tadi. "Rasa simpati yang dibuat manusia terhadap manusia itu sendiri menjadikan mereka percaya apa yang dikatakan oleh manusia itu."

Pemuda itu langsung memotong. "Pak, Nabi itu terlihat seperti manusia tapi nyatanya tidak seprtti manusia." Pemuda tadi bangkit dari posisi duduknya. "Lebih baik Bapak bersyahadat lagi Pak. Sebelum nyawa diujung tenggorokan nanti."

"Saya belum selesai."

"Selesaikan dulu kepahaman Bapak, baru saya dengarkan. Kalau salah paham mungkin masih bisa diperbaiki tapi kalau pahamnya salah sudah tidak bisa ditolerir."

"Loh ini hak asasi manusia, kan? Kebebasan saya bersuara?"

"Hak asasi manusia juga buatan manusia, Pak. Pemikiran manusia yang belum bisa jadi patokan akhirat."

Semoga menginpirasi.

Selasa, 05 Agustus 2014

Obrolan warung kopi: Part 1

BRUK!

Bimo memukul pelan bangku warung kopi yang betcat biru muda setelah menonton berita di teve.

"Saya nggak ngerti apa yang jadi pedoman negri ini, yang ini salah, yang itu salah. Yang jendral salah, yang arsitek salah, kiai juga disalahin!" Bimo mengoceh sendiri di warung kopi yang tidak begitu ramai.

"Ngomong opo toh Nak? kamu iki ndak usah mikirin politik, cukup mikirin perut keluarga sajah," Ayahnya menimpali sambil menyeruput kopi hitam kental kesukaannya.

"BBM naik, bumbu dapur naik, tapi gaji nggak naik-naik. Ini namanya membunuh rakyat pelan-pelan!" Bimo hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda tak setuju. Sang pengunjung berseragam PNS tiba-tiba duduk di antara Bimo dan Ayahnya.

"Mas.. Pak.. Kita kan rakyat, dan negri ini mengambil paham dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat, jadi aspirasi kita harus.."

Bimo memotong. "Jadi bapak PNS mau ngomong apa? To the point aja jangan kayak tersangka korupsi yang berbelit-belit ngomongnya."

"Iya ngomongmu mbok jangan tinggi-tinggi aku yang sudah tua ini susah ngertinya."

Sang PNS menarik nafas sejenak. "Iya, kita adalah orang-orang yang menentukan nasib bangsa ini. Jadi kita harus ambil bagian dan menyumbang ide untuk bangsa ini, bukan cuma protes dan kritik saja."

"Sama saja Pak, mereka cuma makan gaji buta. Kerjaanya bikin undangan aja."

"Undang-undang, nak," Koreksi sang Ayah.

"Apalah arti kita ada kalau kita cuma diem?" Tanya Sang PNS.

"Saya nggak diam Pak, saya kritik mereka! Biar lebih benar, lebih tegas!" Jelas Bimo. "Lagi pula bapak juga cuma bisa make uang rakyat untuk dines-dines nggak jelas, kan?"

Sang PNS diam, berusaha tidak terpancing dengan suasana. Sekeliling mereka ada beberapa pasang mata yang mendengar tapi bisu tanpa kata. Hanya bisa menyadap suara perdebatan mereka tanpa peduli. "Orang tidak tau apa yang ada dalam suatu rumah kalau cuma liat dari depannya aja, coba kamu sekali aja masuk. Nanti, kamu liat mana orang yang kamu bilang tadi dan mana orang yang selama ini kerja keras."

"Terus kalau saya mau kritik misalnya..."

PNS itu memotong. "Kalau mengkritik harus dengan cara kreatif agak dilirik, dengan cara berbeda. Bukan hanya teriak-teriak di warkopi."

"Jadi harus gimana?"

"Kita harus membuat hal yang berbeda. Misal, membuat komik yang menyindir, game, atau aksi kreatif yang mengkritik dengan cerdas agar bisa diterima masyarakat."

"Saya kan ndak bisa main internet, Nak," Ayah Bimo menggaruk-garuk rambut putihnya.

"Kalau gitu harus dibarengi dengan gerakan brantas buta internet, ini kan jaman modern, Yah."

"Kamu ini anak kurang ajar, Ayahmu ini dibilang buta!" Protes sang ayah.

"Bukan Pak, maksudnya belajar intetnet. Nanti kita sama-sama belajar internet. Biar bisa, mau?" Jelas PNS itu.

"Wah mau bangetlah aku," Semangat Ayah Bimo dengan tatapan berbinar.

"Emang bisa ya, Pak?" Tanya Bimo.

"Semua bisa, asal bersama." Sang PNS tersenyum sambil mengeluaekan beberapa lembar rupiah untuk membayar bala-bala yang tadi ia makan.

Jika hanya mengkritik di warung kopi, tidak ada yang mendengar kecuali kalangan mereka. Kalau mereka hanya mengeluarkan aspirasi dengan teknologi canggih bagaimana nasib para kaum senja? Apa mereka tidak boleh tahu rencana mereka sang wakil penduduk apa?

Semoga menginspirasi.